Jakarta (ANTARA News) - Hasil analisis data risiko Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Departemen Kesehatan menunjukkan, dua dari lima orang Indonesia berisiko mengalami osteoporosis, kelainan yang ditandai berkurangnya massa tulang secara cepat yang membuat tulang keropos dan rapuh.

"41,8 persen laki-laki dan 90 persen perempuan Indonesia memiliki gejala osteoporosis," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tjandra Yoga Aditama, pada puncak peringatan Hari Osteoporosis Nasional yang diselenggarakan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu pagi.

Sedangkan 28,8 persen laki-laki dan 32,3 persen perempuan sudah osteoporosis, lanjutnya di hadapan ribuan peserta senam dan jalan sehat massal untuk mencegah osteoporosis.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang juga hadir pada kesempatan itu mengatakan, osteoporosis adalah salah satu penyakit degeneratif yang belakangan menjadi masalah kesehatan Indonesia sebagai efek dari peningkatan usia harapan hidup dan perubahan gaya hidup.

Endang mengatakan, proses degeneratif yang berlangsung seiring bertambahnya usia tidak bisa dihindari namun harus dijaga agar tidak menimbulkan ganguan fungsi tubuh.

"Yaitu dengan mendeteksi faktor risiko untuk mencegah munculnya gangguan," katanya.

Pencegahan osteoporosis dan penyakit degeneratif yang lain dapat dilakukan dengan memperhatikan kecukupan gizi dan beraktifitas fisik dengan berolah raga secara teratur paling tidak 30 menit tiga kali seminggu.

Jalan kaki merupakan salah satu pilihan olah raga yang mudah, murah dan risikonya rendah.

"Tak kalah penting, hindari rokok, alkohol dan narkoba," kata Endang.

Tjandra menjelaskan, pemerintah berupaya mengatasi masalah osteoporosis dengan membuat panduan pencegahan dan penanganan osteoporosis. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009