Denpasar (ANTARA News) - Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana berharap, adegan-adegan dalam film "Eat Pray, Love" yang dibintangi Julia Roberts, tidak mengganggu kesucian pura.

"Sepanjang pengambilan gambar sudah berlangsung lebih dari dua pekan di Bali, saya dan pengurus PHDI sama sekali belum pernah diajak bertemu bahkan berkoordinasi," keluhnya kepada ANTARA di Denpasar, Jumat.

Dia juga menduga PHDI daerah yang dijadikan lokasi pengambilan gambar film EPL tidak dilibatkan karena tidak ada laporan dari pembuat film ke PHDI.

"Saya berharap ada pengawasan dari desa pakraman jangan sampai ada yang mengganggu kesucian pura dan tempat suci lainnya," katanya.

Dia menganggap panitia film tidak mengerti Bali sehingga mereka tidak berusaha melapor, padahal jika tempat suci juga diambil gambarnya maka panitia hendaknya berkoordinasi dulu.

"Jangan sampai apa yang dilakukan warga luar di Bali ini justru membuat tidak nyaman masyarakat kita sendiri," ujar Sudiana.

Faktanya, sejumlah pengambilan gambar dalam film itu memang berhubungan dengan kegiatan keagamaan masyarakat Hindu Bali.

Di Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung misalnya, tim film membangun rumah berlantai dua dengan persiapan dua bulan sebelum pengambilan gambar dimulai dari sebuah pohon beringin besar sampai bangunan pura.

"Jika kondisinya seperti itu maka minimal pengempon pura atau desa pakraman dan PHDI setempat mengawasi jangan sampai ada yang menodai pura," katanya.

Menurut dia, pengambilan film Julia Roberts ini berbeda dengan beberapa pengambilan film yang pernah digelar di Bali sebelumnya. Sebelumnya PHDI selalu dilibatkan, tapi dalam film Julia Roberts itu tidak. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009