PDPI imbau masyarakat waspada atas laporan transmisi airbone COVID-19

PDPI imbau masyarakat waspada atas laporan transmisi airbone COVID-19

Ketua Pengurus Harian PDPI DR. Dr. Agus Dwi Susanto berbicara dalam sebuah acara PDPI di Jakarta, Rabu (19/9/2019). (ANTARA/Katriana)

PDPI juga mendorong terciptanya ruangan dengan ventilasi yang baik, dengan jendela yang dibuka sesering mungkin.
Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada menyusul laporan terkait kemungkinan risiko transmisi COVID-19 melalui udara (airbone) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Dengan terdapatnya risiko penularan secara airborne, terutama pada ruangan tertutup, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menghimbau masyarakat tetap waspada dan tidak panik," kata Ketua Pengurus Harian PDPI DR. Dr. Agus Dwi Susanto dalam keterangan tertulis kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Selain mengimbau masyarakat untuk tidak panik, Agus juga mengajak masyarakat menghindari keramaian, baik di tempat tertutup maupun di tempat terbuka. Kemudian masyarakat juga disarankan untuk selalu memakai masker di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika berada di dalam ruangan.

Baca juga: Dokter paru: Pasien sembuh dari COVID-19 berisiko alami fibrosis

Selain itu, PDPI juga mendorong terciptanya ruangan dengan ventilasi yang baik, dengan jendela yang dibuka sesering mungkin.

Terakhir ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan tangan serta menghindari menyentuh wajah sebelum mencuci tangan dan tetap menjaga jarak pada aktivitas sehari-hari.

Ia mengatakan WHO pada 9 Juli 2020 mengeluarkan panduan terbaru terkait transmisi SARS-CoV-2 yang memiliki perbedaan signifikan antara penularan melalui airbone dan droplet.

Baca juga: Dokter paru: WHO belum keluarkan pernyataan corona menular di udara

Menurut laporan itu, penularan COVID-19 melalui airbone dapat mencapai jarak hingga lebih dari satu meter dan dapat bertahan lama di udara, sedangkan penularan melalui droplet dapat terjadi dalam jarak kurang dari satu meter tetapi tidak bertahan lama di udara.

Risiko tersebut, katanya, tentu sangat berimplikasi terhadap cara pencegahan dan pengendalian terhadap COVID-19 karena transmisi airbone dan droplet sangat berbeda.

Selain itu, penelitian yang dilakukan di lingkungan fasilitas kesehatan tempat pasien COVID-19 dirawat, tetapi tidak dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, melaporkan keberadaan RNA SARS-CoV-2 pada sampel udara. Namun pada penelitian lain yang sama, baik di fasilitas kesehatan maupun nonfasilitas kesehatan tidak ditemukan keberadaan RNA SARSCoV-2.

Dalam sampel yang ditemukan virus, kuantitas virus yang terdeteksi dalam jumlah yang sangat kecil dalam volume udara yang besar dan satu studi menemukan virus tersebut di sampel udara dalam kondisi virus yang belum bisa bereplikasi.

Baca juga: PDPI dorong pemerintah buat desentralisasi perawatan tangani COVID-19

Pewarta: Katriana
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Anak terinfeksi COVID-19 NTB, tertinggi kedua nasional

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar