Makassar (ANTARA News) - Pemangkasan Dana Alokasi Khusus (DAK) Sulawesi Selatan 2010 sebesar Rp13 miliar menyebabkan empat proyek rehabilitasi irigasi di daerah ini dibatalkan.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Aair (PSDA) Sulsel Soeprapto Budisantoso di Makassar, Rabu, mengatakan, keempat proyek tersebut terletak di Kabupaten Gowa, Bone, Wajo dan Soppeng.

Ia menjelaskan, anggaran DAK 2010 Sulsel yang dialokasikan pemerintah pusat hanya sebesar Rp10 miliar. Alokasi anggaran tersebut lebih rendah dibanding anggaran yang dikucurkan 2009 sebesar Rp23 miliar.

Menurutnya, dengan jumlah itu maka hanya ada dua proyek yang bisa dijalankan yakni Irigasi Bettu di Kabupaten Bulukumba dan Tubuampa di Kabupaten Luwu.

"Salah satunya proyek yang batal yakni irigasi Bili-bili di Kabupaten Gowa," katanya.

Soeprapto mengatakan, untuk mengatasi kekurangan alokasi DAK tersebut, PSDA mendapatkan alternatif pembiayaan yakni dengan dana pengelolaan irigasi partisipasif yang melibatkan kelompok petani pengguna air.

Anggaran tersebut bersumber dari pinjaman luar negeri atau dana BSP. Untuk 2010, anggaran bantuan luar negeri sebesar Rp18 miliar.

Dana tersebut akan dibagi dalam beberapa pos-pos kecil untuk dibiayai dan dikerjasamakan dengan petani pengguna air.

"Rehabilitasi akan dilakukan secara bertahap tergantung ketersediaan anggaran. Khusus untuk dana pinjaman luar negeri, akan melibatkan petani pengguna air," katanya.

Beberapa waktu lalu, Kepala Biro Keuangan Yushar Huduri mengatakan, pemerintah pusat memangkas DAK Sulsel sebesar Rp15,6 miliar.

Berdasarkan hasil rapat dengan Menteri Keuangan, untuk 2010, pemprov hanya mendapatkan anggaran pembangunan infrastruktur sebesar Rp29,2 miliar.

Padahal, untuk 2009, Pemprov Sulsel mendapatkan alokasi DAK sebesar Rp44 miliar. Pengurangan dana yang dikucurkan dari APBN tersebut dipastikan menghambat program peningkatan infrastruktur seperti jalan dan irigasi di Sulsel.

"Salah satu dinas yang mendapatkan pemangkasan anggaran akibat programnya yang tidak disetujui adalah PSDA," ujarnya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009