Pakar: tingkatkan produktivitas pertanian dengan jarak tanam

Pakar: tingkatkan produktivitas pertanian dengan jarak tanam

Pakar pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof. Loekas Soesanto (ANTARA/HO - dok. pribadi)

Pengaturan jarak tanam yang ideal akan membantu tanaman untuk menangkap lebih banyak cahaya matahari sehingga dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan.
Purwokerto (ANTARA) - Pakar pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof Loekas Soesanto mengingatkan pentingnya mengatur jarak tanam untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

"Untuk meningkatkan produktivitas tanaman lakukan pengaturan jarak tanam, jarak tanam ini menentukan produktivitas tanaman padi melalui pengaruhnya terhadap kuantitas dan kualitas tanaman," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu menambahkan pengaturan jarak tanam membuat tanaman tumbuh optimal karena tidak mengalami banyak persaingan misalkan dalam pengambilan air, cahaya matahari serta memiliki ruang yang leluasa untuk tumbuh dengan baik.

"Pengaturan jarak tanam yang ideal akan membantu tanaman untuk menangkap lebih banyak cahaya matahari sehingga dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan," katanya.

Baca juga: Gubernur Jabar sebut sektor pertanian paling tangguh terhadap COVID-19

Dia mengatakan pada musim kemarau seperti sekarang ini ketersediaan air irigasi banyak mengalami penurunan sehingga pengaturan jarak tanam bisa menjadi salah satu solusi yang baik.

"Untuk itu sosialisasi mengenai manfaat dan pentingnya pengaturan jarak tanam harus terus diintensifkan kepada para petani," katanya.

Dia mengatakan pemerintah daerah berperan untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada petani untuk mengatur jarak antar tanaman dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian.

Sebelumnya dia juga mengatakan bahwa selain melakukan jarak tanam yang perlu dilakukan pada saat musim kemarau adalah melakukan rotasi tanaman.

"Misal pada musim kering ini maka petani melakukan rotasi dari menanam padi menjadi menanam palawija sebagai solusi terbaik saat kemarau guna mencegah gagal panen karena tidak membutuhkan banyak air," katanya.

Baca juga: Tumbuh positif, Peneliti: investasi pertanian perlu ditingkatkan

Dia menambahkan bagi petani yang masih tetap ingin menanam padi karena merasa ketersediaan air irigasi di wilayahnya masih banyak maka bisa saja dilanjutkan.

"Menurut saya itu sangat tergantung pada ketersediaan air irigasi, jika ketersediaannya masih ada bisa lanjut, tetapi yang terbaik adalah rotasi dengan palawija," katanya.

Dia mengatakan palawija merupakan jenis tanaman yang hemat air sehingga tidak memerlukan air irigasi yang melimpah.

"Karena itu palawija merupakan bagian penting dalam rotasi tanaman saat kemarau, contohnya adalah kacang hijau, kedelai, jagung dan lain sebagainya," katanya.

Dia menambahkan kacang hijau merupakan salah satu tanaman yang sangat hemat air sehingga cocok menjadi tanaman alternatif pada musim kering.

 

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemkab Tabanan Bali perkuat wisata berbasis pertanian

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar