Denpasar (ANTARA News) - Salah seorang tokoh puri atau keraton di Bali menyatakan, masyarakat telah kehilangan seorang tokoh dan guru pluralisme setelah wafatnya KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur Rabu sore kemarin.

"Secara pribadi, saya merasa kehilangan seorang guru sejati. Beliau banyak mengajarkan kita bagaimana hidup bertoleransi di tengah perbedaan," kata tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan Anak Agung Ngurah Agung kepada ANTARA di Denpasar, Kamis dinihari.

Ketua Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PHMB) ini menyebut Gus Dur telah membawa masyarakat, khususnya dia, dalam memahami hidup yang sebenarnya, yakni berbeda, namun tetap bersaudara.

"Mungkin pola pikir saya yang kadang dibilang aneh dan berani merupakan hasil dari `ajaran` Gus Dur," kata tokoh yang selalu mengenakan pakaian adat Bali itu.

Ia mengemukakan, sepeninggal Gus Dur, ia bertekad akan meneruskan ajarannya mengenai pluralisme, meskipun skalanya di tingkat Bali dan dia berharap masyarakat mengikutinya.

"Saya bertekad untuk meneruskan cara berpikir Gus Dur. Saya kira sikap beliau harus ditiru oleh tokoh-tokoh lain dalam menyikapi perbedaan atau kebhinnekaan di negeri ini," katanya.

Ia mengemukakan, Gur Dur telah mengajarkan bahwa semua manusia memiliki hak yang sama di negeri ini untuk menjalankan keyakinannya.

"Makanya kami bertekad menjadikan persaudaraan umat Hindu dengan yang Muslim, Kristen, Protestan, Budha dan lainnya betul-betul terwujud secara baik nantinya," katanya. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009