Biak (ANTARA News) - Warga Nadhalatul Ulama (NU) Kabupaten Biak Numfor, Papua, Kamis subuh mengelar doa bersama untuk arwah Presiden RI keempatKH Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang wafat Rabu malam pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta.

Prosesi acara doa bersama warga nahdiyin Biak dilaksanakan setelah salat subuh berjamaah di Masjid Almukinin Sorido Distrik Biak Kota dipimpin imam masjid Ustad Riyanto.

"Gus Dur sebagai pemimpin bangsa yang sederhana dan konsisten mengajarkan keadilan, demokrasi dan kebebasan pendapat," ungkap Riyanto.

Gus Dur bagi warga NU selain dikenal sebagai tokoh kharismatik juga bapak bangsa karena pemikiran yang selalu menghargai pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Saat menjabat Presiden RIera 1999an, masyarakat Papua mengenalnya sebagai bapak demokrasi karena berkat kebebasan demokrasi yang dikembangkannya berhasil mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua tahun 2000 silam.

"Berkat jasa dan keputusan Gus Dur nama Irian Jaya diganti menjadi Papua, ya kebijakan Presiden RI keempat akan terus dikenang masyarakat Papua," kata Marinus, seorang warga Biak.

Untuk mengenang dan menghormati jasa mantan Presiden RI keempat, sejumlah perkantoran pemerintahan, TNI/Polri dan warga Biak mengibarkan bendera setengah tiang.(*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009