Alumni IPB University berhasil bangun 1.000 rumah bagi korban bencana

Alumni IPB University berhasil bangun 1.000 rumah bagi korban bencana

Ilustrasi - Warga korban bencana beraktivitas di depan hunian sementara (Huntara) yang dibangun oleh salah satu lembaga kemanusiaan di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (2/9/2020). ANTARAFOTO/Basri Marzuki/foc. (ANTARAFOTO/BASRI MARZUKI)

Jakarta (ANTARA) - Alumni IPB University Herdiansah hingga saat ini berhasil membangun sekitar 1.000 rumah lebih bagi korban bencana gempa bumi di Lombok dan Palu berkat kiprahnya di bidang social enterprise.

“Salah satu peran saya ialah dipercaya membangun hunian recovery setelah bencana Lombok dan Palu oleh perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Peranan tersebut diperolehnya sebab sejak 2018 hingga saat ini, Herdiansah menjadi CEO, Direktur Utama Dompet Dhuafa Construction dan Direktur Utama Asset Trust Development yakni perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, properti dan pengelolaan aset.

Alumni IPB University yang lulus pada 2006 dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan tersebut mengatakan terdapat lebih dari 1.000 hunian yang berhasil dibangun dan ada fasilitas publik lainnya termasuk sekolah, pasar, industri atau pabrik, jembatan dan rumah sakit yang tersebar di Indonesia.

Baca juga: BNPB catat 1.706 kejadian bencana alam sepanjang 2020

Baca juga: Sekitar 300 rumah rusak akibat terjangan puting beliung di Pontianak


Saat menjadi mahasiswa, ia mengaku kondisi ekonomi keluarganya cukup terbatas dan penuh dengan tantangan. Namun, hal itu tidak lantas membuatnya lemah.

Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi lecutan motivasi untuk bisa lebih mandiri, lulus tepat waktu dengan predikat sangat memuaskan dan aktif beraktivitas di berbagai organisasi.

Herdiansah pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), juara olimpiade mahasiswa bulutangkis, utusan IPB University dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) mahasiswa nasional, tim nasyid terbaik dalam Festival Nasyid se-Bogor Raya dan segudang prestasi lainnya.

Kemandirian ayah dari tujuh orang anak ini juga ditunjukkan dengan berbagai usaha yang dijalankannya saat masih berada di bangku perkuliahan mulai dari menjadi pelatih olahraga bulutangkis, mengajar privat bimbingan belajar, menjual kaos dan jaket, menjual sandal gunung hingga menjual gorengan.

“Rasa malu sengaja saya tepis agar dapat membiayai kuliah tanpa meminta bantuan dari orang tua,” kata dia.

Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di salah satu bank ternama di Jakarta. Namun, jiwa sosial dan rasa kepeduliannya terhadap masyarakat begitu besar sehingga ia memilih berkontribusi dalam bidang social enterprise dengan menjadi bagian dari keluarga besar Dompet Dhuafa.

Pada 2010, saat menjabat sebagai pimpinan GM Resources Mobilization, Herdiansah memecahkan rekor menghimpun dana publik lebih dari Rp200 miliar dalam setahun. Perolehan itu besar bagi skala organisasi nonpemerintah saat itu dan mampu membantu banyak masyarakat prasejahtera melalui program kesehatan, pendidikan, ekonomi serta lingkungan.

Kemudian pada 2014 hingga saat ini, Herdiansah menjabat sebagai Direktur CSR Dompet Dhuafa yang mengelola berbagai program sosial yang mayoritas berada di wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T).

Sementara itu, pada 2019 ia juga mulai bergerak ke Asia dengan berkontribusi aktif di Filipina yang menjadi korban gempa terdampak parah.

Ia merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia untuk memberikan bantuan rumah ramah gempa kepada warga yang terdampak. Tugas dan peran ini sebenarnya juga menjadi peran lanjutan dimana sebelumnya bertugas di Hongkong, Australia dan Amerika serikat.*

Baca juga: BPBD Sulsel laporkan tujuh rumah hancur akibat longsor di Palopo

Baca juga: Longsor di Palopo dua rumah amblas dan jalan Palopo-Rantepao terputus

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden revitalisasi 1.000 rumah gadang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar