Jakarta (ANTARA News) - PT PLN (Persero) menargetkan program penghematan subsidi melalui pengalihan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) ke batubara dan gas senilai total Rp35 triliun per tahun.

Dirut PLN Dahlan Iskan dalam rapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta Senin mengatakan, program pengalihan BBM ke batubara ditargetkan menghemat Rp20 triliun, sedang gas Rp15 triliun per tahun.

"Kami akan bangun 150 unit PLTU skala kecil berkapasitas 740 MW di luar Jawa seperti Sabang, Nias, Maluku Utara, dan Sorong guna mengatasi krisis listrik dalam dua tahun ke depan ini," katanya.

Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang menambahkan, PLTU skala kecil akan menggantikan PLTD-PLTD yang boros memakai BBM atau dioperasikan hanya saat beban puncak saja.

Dahlan melanjutkan, guna mendukung program pembangunan PLTU kecil tersebut, pihaknya meminta kebijakan pasok batubara ke dalam negeri (DMO) dengan besaran 30 persen.

Kebijakan DMO tersebut, katanya, juga mesti disertai harga yang khusus.

"Kalau memakai harga pasar, maka makna DMO tidak tercapai," ujarnya.

Dahlan juga mengatakan, pihaknya akan mengalihkan pemakaian BBM ke gas di sejumlah pembangkit yang seharusnya berbahan bakar gas, namun masih memakai BBM.

Menurut dia, sekarang PLTG yang seharusnya memakai gas, namun masih membakar minyak berjumlah 5.000 MW.

"Saya sebut pembangkit ini "salah makan". Kalau pengalihan ini bisa dilakukan, maka terdapat penghematan Rp15 triliun per tahun," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya telah memperoleh kepastian dari pemerintah bahwa pasokan gas buat pembangkit "salah makan" bisa terpenuhi September 2011.

Pasokan gas tersebut terutama berasal dari terminal gas alam cair yang direncanakan dibangun di tiga lokasi yakni Medan, Jakarta, dan Jatim.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010