Bengkulu (ANTARA News) - Informasi tentang mekarnya bunga kibut jenis titanum (Amorphopalus titanum) atau disebut juga bunga bangkai di perbatasan Kota Bengkulu-Kepahiang, menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya secara langsung.

Meskipun mengeluarkan bau tak sedap, bunga langka yang memiliki tinggi 2,15 meter yang terletak 40 meter dari badan jalan itu tetap menarik pengunjung.

"Mulai kami buat plang informasi hari Sabtu lalu, sudah banyak pengunjung yang datang dan melihat langsung karena jaraknya hanya 40 meter dari jalan," kata Koordinator Kelompok Peduli Puspa Langka Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Holidin, saat dihubungi melalui telepon, Selasa.

Ia mengatakan sebagian besar pengunjung adalah masyarakat Kota Bengkulu dan sekitarnya serta pengguna jalan raya Bengkulu-Kepahiang yang menyempatkan diri melihat flora langka itu.

Pengunjung bunga kibut dan bunga raflesia (Rafflesia arnoldi) yang sering mekar di kawasan itu tidak hanya dari masyarakat lokal tapi juga dari kelangan wisatawan mancanegara.

"Biasanya selalu ada kunjungan dari turis, tapi yang mekar sekarang belum, karena baru dua hari dibuka untuk umum," katanya.

Lokasi bunga mekar yang masih sering diguyur hujan tidak menjadi kendala bagi pengunjung karena tim membuat jalan setapak.

Namun, kondisi ini tidak menjadi halangan bagi pengunjung yang berniat melihat dan berfoto bersama dengan bunga itu.

Holidin mengatakan, selain bunga kibut yang saat ini tengah mekar sempurna, dalam waktu bersamaan masyarakat bisa menikmati satu bunga Raflesia yang akan mekar sempurna dalam dua pekan ke depan.

Selain satu bunga tersebut, sejumlah knop atau calon bunga juga banyak ditemui di lokasi tersebut dan diperkirakan akan mekar secara bergantian hingga beberapa bulan ke depan.

Holidin mengharapkan masyarakat bisa membantu pihaknya dengan memberikan sumbangan sukarela untuk menjaga habitat bunga kibut dan raflesia tersebut.

"Kami tidak memungut bayaran, tapi sumbangan sukarela yang kami pergunakan untuk menjaga habitat bunga ini," katanya.(T.K-RNI/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010