Peneliti: Warga pesisir Papua Barat butuhkan peningkatan kapasitas

Peneliti: Warga pesisir Papua Barat butuhkan peningkatan kapasitas

Tangkapan layar Manajer Research Data Innovation (RDI) Yayasan Institut Sumber Daya Dunia​​​​​​​ (WRI Indonesia) Dean Yulindra Affandi dalam pemaparan hasil ekspedisi ekosistem bakau pesisir Papua Barat, yang dipantau di Jakarta, Kamis (24/9/2020). (FOTO ANTARA/Prisca Triferna)

Tim menemukan terdapat dua jenis komunitas yaitu yang tidak aktif memanfaatkan sumber daya bakau dan hanya memakai untuk kebutuhan tertentu dan yang memanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan sendiri tapi menjadi mata pencaharian
Jakarta (ANTARA) - Pemberdayaan masyarakat pesisir yang tinggal dekat ekosistem bakau di Papua Barat bisa dilakukan dengan meningkatkan kapasitas dalam memroses bahan mentah dan membuat produk bernilai jual, kata Manajer Research Data Innovation (RDI) Yayasan Institut Sumber Daya Dunia (WRI Indonesia) Dean Yulindra Affandi.

"Harapan dari masyarakat di sana yang muncul dalam diskusi kami adalah perlu adanya semacam pelatihan untuk pembuatan dan juga pemasaran produk," katanya ketika memaparkan hasil dari Tim Ekspedisi Mangrove Papua Barat 2019 dalam acara yang diselenggarakan EcoNusa, yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Dalam ekspedisi yang diselenggarakan untuk melihat kondisi bakau di pesisir Papua Barat itu, tim menemukan bahwa terdapat dua jenis komunitas yaitu yang tidak aktif memanfaatkan sumber daya bakau dan hanya memakai untuk kebutuhan tertentu dan yang memanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan sendiri tapi menjadi mata pencaharian.

Di komunitas yang memanfaatkan sebagai mata pencaharian, kata dia, kebanyakan menggunakannya dalam bentuk menjual komoditas ekosistem bakau seperti ikan, kepiting, udang dan teripang. Selain itu terdapat juga masyarakat yang memanfaatkan jenis tanaman lain seperti pala.

Ia mengataka masyarakat di pesisir yang ditemui tim ekspedisi haus akan langkah inovasi yang berbasis hasil penelitian sosial budaya di lokasi kampung yang memiliki bakau. Langkah itu bisa dibantu dengan kuliah kerja nyata oleh mahasiswa atau lembaga swadaya masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah.

"Temuan-temuan riset lanjutan terkait kekayaan biodiversitas yang ada di ekosistem bakau, jasa lingkungan akan sangat berguna bagi formulasi kerja pemerintah provinsi Papua Barat untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang lebih hijau," katanya.

Sementara itu, di sisi lain pemerintah daerah juga harus dapat mempersiapkan rantai pasar yang siap menampung produk-produk hasil masyarakat dan membantu pendistribusiannya.

Namun, juga diingatkan perlunya pemanfaatan ekosistem bakau tersebut dikelola dengan prinsip perencanaan pembangunan berkelanjutan oleh pemerintah daerah, nasional dan pemangku kepentingan di tingkat lokal, demikian Dean Yulindra Affandi.

Baca juga: Masih banyak praktik baik menjaga alam di Papua, sebut peneliti

Baca juga: Wilayah pesisir Papua Barat terus didorong pertumbuan ekonominya

Baca juga: Mangrove di Pesisir Sorong ditanam bersama warga dan TNI-AL

Baca juga: Lahan kritis di Teluk Wondama diperbaiki dengan penanaman mangrove


 

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Moeldoko paparkan 5 hal percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar