Yogyakarta (ANTARA News) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap ada pemetaan kebudayaan Tionghoa di Indonesia, sehingga akan lebih memperkaya khasanah kebudayaan nusantara.

"Setiap kebudayaan besar selalu memiliki sub kebudayaan atau sub kultur, begitu pula dengan kebudayaan Tionghoa yang telah menjadi sub kultur kebudayaan nusantara," kata Sultan saat membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) V di Ketandan, Kota Yogyakarta, Selasa malam.

Menurut dia, kebudayaan nusantara dan kebudayaan Tionghoa tidak dapat dipisahkan dan telah terjadi akulturasi budaya di masyarakat, tanpa ada campur tangan dari pemerintah.

Ia menyebutkan antara kebudayaan nusantara dengan kebudayaan Tionghoa memiliki banyak persamaan, di antaranya ciri khas pemberian angpao pada saat perayaan Imlek.

Pemberian sejenis angpao itu juga dilakukan masyarakat Jawa kepada anak-anak pada saat perayaan idul fitri, atau ketika melakukan bersih kubur sebelum perayaan Imlek, yang ternyata hampir sama dengan budaya "nyadran" milik masyarakat Jawa menjelang bulan puasa.

Sultan HB X juga berharap pelaksanaan PBTY semakin mengalami kemajuan setiap tahunnya, dan pesta budaya tersebut tidak hanya menjadi kanalisasi hiburan di tengah kegalauan politik di Indonesia seperti kasus Bank Century yang masih hangat.

"Perayaan tersebut juga dapat menyatukan budaya dari berbagai etnis untuk membangun budaya nusantara dan wahana memperkuat jalinan budaya Indonesia dalam proses integrasi bangsa," katanya.

Sultan HB X membuka secara resmi PBTY V dengan menekan tombol lampu pada replika naga lampion yang akan ditampilkan pada puncak acara PBTY V pada Sabtu (27/2) mendatang.

Sementara itu, Ketua Panitia PBTY V Tri Kirana Muslidatun mengatakan tema utama dalam perayaan tersebut adalah "Khasanah Budaya Yogyakarta", dengan pameran budaya bertema mie.

"Ada pameran tentang sejarah mie yang berasal dari Tionghoa dan perkembangannya hingga disukai hampir semua orang di dunia," katanya.

PBTY ini berlangsung sejak 23 Februari hingga 27 Februari, dan pada saat upacara penutupan digelar karnaval dengan menampilkan naga lampion terpanjang se-Asia, yakni 126 meter.

Karnaval tersebut akan dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali pada pukul 19.00 WIB, dan berakhir di titik nol kilometer di depan kantor Pos Besar, Kota Yogyakarta.

Selain itu, juga ditampilkan tarian baru hasil kreasi seniman tari Yogyakarta Didik Nini Thowok berjudul Jathilan Ampyang, serta diakhiri dengan pesta kembang api.

(U.E013/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010