Boyolali (ANTARA News) - Puluhan  rumah warga Desa Kemusu dan Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Minggu, rusak akibat terjangan puting beliung.

Hujan deras disertai puting beliung terjadi di dua desa tersebut sekitar pukul 14.30 WIB mengakibatkan sedikitnya ada 65 rumah rusak yang umumnya kategori ringan.

Satu rumah rusak kategori sedang karena tertimpa pohon jati. Genteng rumah-rumah mereka beterbangan saat angin kencang menerjang kawasan itu.

"Tidak ada korban jiwa," kata anggota Tim SAR Putra Serang Kemusu, Hartono.

Ia mengatakan, terjangan angin itu sempat membuat sebagian warga setempat panik dan tidak berani keluar rumah sebelum hujan reda.

Mereka bergotong-royong memperbaiki kerusakan rumah setelah hujan reda.

Seorang warga Kemusu, Hadianto (65), mengatakan, beberapa menit setelah hujan terlihat deras secara tiba-tiba datang puting beliung menerjang desa setempat.  

"Kami sempat panik," katanya.

Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Boyolali, Sucipto, mengaku, pihaknya sudah mendapatkan laporan tentang peristiwa tersebut.

Terjangan puting beliung juga terjadi pada Sabtu (27/2) di Desa Guwo, Boyolali, mengakibatkan sedikitnya 38 rumah warga rusak dan salah satunya roboh.

Pihaknya telah menyalurkan bantuan tanggap darurat di desa itu sedangkan bantuan untuk Desa Kemusu dan Genengsari rencananya disalurkan Senin (1/3)

"Kami melakukan langkah tanggap darurat kepada mereka antara lain menyalurkan bantuan beras, mi instan dan lauk pauk," katanya.

Petugas juga masih mendata secara detail tentang kerusakan rumah akibat bencana itu.

Camat Banyudono, Karseno, mengatakan, rumah milik Basuki Yono (48), warga Dukuh Jembangan, Desa Kalisari, rusak relatif parah akibat tertimpa pohon randu saat puting beliung menerjang desa itu, Minggu sekitar pukul 01.00 WIB.

Kerugian yang dialami pemiliknya sekitar Rp1,5 juta.

"Dua tiang listrik roboh sehingga jaringan listrik di Dukuh Jembangan sempat padam," katanya.(BDM/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010