Denpasar (ANTARA News) - Umat Hindu Bali, Rabu, merayakan Hari Pagerwesi yang bermakna untuk meningkatkan keteguhan iman serta mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dunia beserta isi diberikan keselamatan.

"Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap 210 hari sekali merupakan rangkaian Hari Raya Saraswati, hari lahirnya ilmu pengetahuan yang jatuh pada Sabtu (27/2) lalu," kata Drs I Ketut Sumadi MSi, dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Rabu.

Umat Hindu pada Hari Pagerwesi mengadakan upacara keagamaan dengan menghaturkan sesaji serta rangkaian janur, bunga dan buah-buahan (banten) di tempat suci rumah keluarga masing-masing (merajan).

Pagerwesi merupakan "tonggak" untuk mengingatkan umat terhadap Tuhan Yang Maha Esa penguasa alam semesta. Upacara itu dilakukan dengan cara bhakti maupun pengorbanan suci secara tulus ikhlas (yadnya).

Umat Hindu pada hari suci terbesar kedua setelah Hari Raya Galungan dan Kuningan (Kemenangan Dharma), juga dimaksudkan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan dan bimbingan ke jalan yang benar serta mampu menegakkan kebenaran sesuai ajaran agama dan hati nurani.

Sumadi yang juga kandidat doktor pada Program Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, Umat Hindu memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi sebagai "Paramesti Guru".

Dengan demikian, atas kekuatan iman serta bimbingan dan lindungan-Nya, manusia dapat mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah diturunkan pada Hari Raya Saraswati. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan itu dalam penggunaannya dapat dilandasi oleh kesucian, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup umat manusia.

Sumadi berharap melalui perayaan Pagerwesi mampu memperkuat "benteng iman" melalui yoga semadi, sekaligus dapat mengambil hikmah untuk mengendalikan musuh dalam diri maupun musuh yang berasal dari luar diri.

Pelaksanaan tata cara di berbagai daerah Pulau Dewata disesuaikan dengan tempat, waktu dan keadaan (desa, kala patra). Bahkan untuk Kabupaten Buleleng, Bali Utara perayaan Pagerwesi melebihi dari Hari Raya Galungan.

Perayaan tersebut dilandasi tradisi masing-masing daerah dalam mengenang kembali terhadap kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Ajaran agama pada hakekatnya mampu menyejukan diri umatnya (pageh) dan menjadi aplikasi dari jati diri dalam memfungsikan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Manusia dalam kehidupannya tidak henti-hentinya menghadapi masalah, tantangan dan rintangan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan.

Umat manusia selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik, mampu mengatasi segala permasalahan, berusaha mewujudkan kehidupan yang serasi dengan mematuhi ketentuan norma dan hukum berlaku, ujar Sumadi.
(L.I006*P004/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010