Moskow (ANTARA News/AFP) - Para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan Rusia yakin kedua negara akan mencapai perjanjian baru perlucutan senjata nuklir.

Juru runding AS-Rusia bertemu di Jenewa untuk membahas kesepakatan baru yang akan menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata-Senjata Strategis (START) tahun 1991.

START yang akan berakhir Desember mendatang itu dipandang sebagai penanda perjanjian senjata nuklir di era Perang Dingin.

Menurut Kremlin, kedua pemimpin mengungkapkan kepuasan mereka pada kesiapan lahirnya perjanjian baru perlucutan senjata nuklir itu.

Dalam pembicaraan telepon mereka, Presiden Barack Obama dan Dmitry Medvedev menekankan adanya kemungkinan penetapan tanggal pasti penyerahan naskah kesepakatan untuk ditandatangani keduanya.

Namun Kremlin tidak memberikan tanggal spesifik bagi penyerahan naskah kesepakatan untuk ditandatangani kedua kepala negara tersebut.

Kedua pemimpin pun sepakat memberikan instruksi tambahan kepada delegasi masing-masing agar menyelesaikan perjanjian itu.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton akan membahas isu START dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, saat berkunjung ke Moskow pada Kamis dan Jumat.

Ditandatangani pada 1991, START berhasil mendorong kedua negara mengurangi secara signifikan penyimpanan nuklir mereka.

Perjanjian itu juga menetapkan langkah-langkah verifikasi guna membangun rasa saling percaya di antara kedua negara yang pernah menjadi musuh bebuyutan semasa Perang Dingin tersebut.

Prospek perjanjian baru itu sendiri sudah terlihat sejak Obama dan Medvedev sepakat mengurangi antara 1.500 dan 1.675 kepala nuklir masing-masing negara.

AS sendiri kini memiliki 2.200 kepala nuklir sedangkan Rusia diperkirakan mempunyai sekitar 3.000 kepala nuklir.

Terlepas dari optimisme kedua negara, rencana AS meluncurkan program pertahanan misil di Eropa Timur merupakan tantangan.

Dalam laporannya Selasa lalu, Suratkabar "The New York Times" mengatakan, Presiden Obama "frustrasi" setelah pembicaraan per teleponnya dengan Presiden Medvedev Februari lalu.

Ketika itu, Medvedev menyampaikan keinginan Rusia untuk membuka kembali isu-isu yang menurut Gedung Putih sudah selesai, termasuk persoalan sistem pertahanan misil.

Menlu Rusia membantah adanya kemacetan perundingan akibat ketidaksepakatan tentang sistem pertahanan misil itu.

Tercapainya perjanjian perlucutan senjata nuklir yang baru dengan Rusia ini menjadi prioritas kebijakan luar negeri Obama.

Dengan adanya perjanjian tersebut, ambisi presiden AS untuk mewujudkan dunia yang bebas dari senjata nuklir dapat tercapai.

Pekan ini, seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan tim perunding AS tidak terburu-buru membahas START demi perjanjian baru yang diharapkan dapat ditandatangani sebelum April 2010.

Pada April 2010 itu, AS menjadi tuan rumah KTT non-proliferasi nuklir. (R013/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010