Rhenald Kasali Mengajak Indonesia Bergerak

Rhenald Kasali Mengajak Indonesia Bergerak

Rhenald Kasali (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Terlalu mementingkan pengetahuan (brain memory) tanpa ada motivasi untuk mulai bergerak, maka keberhasilan sulit tercapai, demikian guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali.

Dalam buku terbarunya, Rhenald Kasalai menempatkan myelin (muscle memory) sebagai faktor penting untuk menjembatani gagasan yang dihasilkan "brain memory" bisa sampai di tujuan dengan "mengendarai" myelin yang terlatih.

Tidak ada keraguan atas kecerdasan sumber daya manusia Indonesia. Banyaknya anak-anak Indonesia yang memenangi olimpiade fisika atau matematika sudah menjadi bukti.

Namun Renald menegaskan bahwa pengetahuan saja tidaklah cukup untuk meraih kesuksesan.

Dalam kehidupan nyata, secara sederhana, ia menyebutkan latihan sebagai kunci dari kesuksesan tersebut. Dapat dikatakan semakin sering berlatih maka jaminan untuk sukses semakin nyata.

Guru besar ini memberikan gambaran bagaimana Brasil sukses dengan sepak bola. Ternyata menjadi kebiasaan dari anak-anak Brasil bermain sepak bola di pantai tidak hanya menggunakan bola tetapi juga batu.

"Mereka pada dasarnya sudah punya kemampuan berlatih lebih keras sejak kecil karena terbiasa bermain di pasir pantai," ujar Rhenald.

Berlatih juga ternyata menjadi kunci keberhasilan dari bintang Britain`s Got Talent, Susan Boyle. Susan, menurut Rhenald, telah memiliki harta tak berwujud atau internal intangibles, tetapi dengan berlatih ketrampilan semakin terasah.

Dengan usia 47 tahun, bertubuh tambun, dan tampilan fisik jauh dari seorang bintang Susan berhasil mengubah pandangan orang-orang di dunia bahwa seorang super star tidak melulu muda, cantik, bertubuh sempurna.

Kesuksesan lainnya dicontohkan Rhenald melalui perusahaan jasa transportasi kenamaan di Indonesia, Blue Bird.

Ia menyebutkan bahwa ada keistimewaan di balik kesuksesan perusahaan yang pada usia 38 tahun telah memiliki 25.000 pengemudi, 4.000 karyawan, dan 17.000 taksi tersebut. Perusahaan tidak segan mengasah harta tak berwujud para pekerjanya, yakni kejujuran dan kedisiplinan.

"Perhatikan, kenapa para supir Blue Bird suka menjulurkan kepalanya ke bangku belakang secara otomatis ketika tamu telah keluar taksi. Mereka refleks mengecek apakah ada barang tertinggal, dan ketika ada yang tertinggal 24 jam barang harus sudah sampai ke pemiliknya," ujar Rhenald.

Keistimewaan itu didapat dari hasil seleksi, penanaman tata nilai, dan pelatihan. Para supir taksi diberi tata nilai kejujuran, dan dilatih untuk jujur melayani tamunya.

Perusahaan lain yang dijadikan contoh oleh Rhenald dalam hal kesuksesan "merawat" intengibles sumber daya manusianya adalah perusahaan jasa kontraktor WIKA.

Mengadaptasi cara kerja Jepang, disiplin waktu, disiplin bekerja, perhatian terhadap detail, dan kerapihan, menjadi intangibles yang dipupuk WIKA bagi pekerjanya. Hingga akhirnya kontraktor WIKA memiliki citra sebagai pekerja keras dan disegani di Aljazair, dipercaya membuat berbagai proyek konstruksi dan kelistrikan.


Myelin dan intangibles

Rhenald Kasali ingin menarik benang merah betapa pentingnya keberadaan intangibles dan myelin bagi sebuah kesuksesan.

Setelah memiliki pengetahuan dan harta tak berwujud (intangibles) yang cukup maka diperlukan kerja myelin untuk menggerakkan gagasan-gagasan yang dihasilkan "brain memory".

Myelin, ia menjelaskan tersebar merata dalam bentuk sistem syaraf pada otot-otot manusia yang memberi perintah dan menyimpan informasi.

"Semakin kita sering berlatih (bergerak) maka myelin akan semakin tebal, dengan demikian kerja akan semakin cepat, otomatis," ujar dia.

Sebuah kekuatan baru bagi Indonesia apabila sumber daya manusia dengan intangible yang diasah diposisikan pada tempat istimewa untuk menjadi pondasi bagi kemajuan bangsa.

"Indonesia masih sering menilai keberhasilan dari segi fisik. Sudah saatnya harta tak berwujud berupa "value and culture, skill, knowledge, team work" dijadikan andalan, sehingga kita tidak lagi hanya mengandalkan sumber daya alam," katanya.

Semua kemampuan itu melekat pada sumber daya manusia, sehingga menjadi penting membiasakan generasi muda tidak sekadar mengasah otaknya tetapi juga mengasah motoriknya untuk terus bergerak.

Hasil riset yang dituangkan dalam buku "Myelin Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan" ia harapkan dapat menggerakan bangsa melalui intangibles pemerintah, perusahaan, dan instansi-instansi yang ada di tanah air dengan tata nilai yang lebih baik sehingga menjadi kekuatan yang amat dasyat untuk kemajuan Indonesia.
(T. Virna Puspa S/R009)

Oleh rusla
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Rhenald Kasali check in otomatis di hotel Flyzoo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar