Malang (ANTARA News) - Ketua umum (Ketum) Persema Malang Peni Suparto secara tegas menyatakan, dirinya sama sekali tidak berniat untuk mencari pengganti Subangkit untuk melatih tim berjuluk Laskar Ken Arok itu setelah pelatih asal Pandaan tersebut diistirahatkan.

"Saya dan manajemen sama sekali belum berpikir soal pelatih baru sebagai pengganti Pak Bangkit untuk mengarsiteki Persema. Kita maksimalkan saja asisten pelatih yang ada sekarang ini," tegas Peni Suparto di Malang, Jumat.

Peni yang juga Wali Kota Malang itu mengakui, dirinya memang kecewa dengan prestasi yang diraih Persema dalam beberapa kali pertandingan terakhir ini yang gagal meraih poin penuh, bahkan harus kehilangan poin di kandang.

Hanya saja, kata Peni, jebloknya prestasi Persema dalam putaran II Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 itu kemungkinan besar juga tidak lepas dari dominasi dan campur tangan manajemen dalam mengatur pemain.

"Pak Bangkit biar istirahat dulu selama kurang lebih satu bulan agar mencari suasana baru dan bisa `fresh` kembali. Kalau sudah `fresh` nanti kita ajak kembali untuk menangani Persema," tegas Peni.

Selain memberikan kesempatan pada Subangkit untuk "refreshing", Peni juga ingin melihat perkembangan tim tanpa seorang Subangkit yang akan terlihat ketika Persema menjamu Persitara Jakarta Utara, Minggu (4/4) di Stadion Gajayana.

"Kami juga ingin tahu sebenarnya siapa yang salah dalam manajerial Persema saat ini, sebab pada putaran I lalu posisi Persema selalu berada di papan atas. Namun, sekarang rasanya kok sulit sekali untuk menang di kandang," katanya menambahkan.

Menanggapi penonaktifan dirinya per 1 April itu Subangkit mengaku, sudah menjadi konsekuensi dan tanggung jawab seorang pelatih ketika gagal memenuhi ambisi dan target yang dibebankan oleh manajemen.

Mantan pelatih Persekabpas Pasuruan itu mengaku, usai laga menjamu Pelita Jaya yang berakhir imbang 2-2, dirinya langsung dinonaktifkan oleh manajemen karena gagal menuai hasil positif dan meraih poin penuh di kandang.

"Kalau seorang pelatih dianggap gagal oleh manajemen ya harus siap menanggung risiko apa pun termasuk dinonaktifkan," tegasnya.(E009/A038)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010