Artikel

Ketika semua kangen penonton

Oleh Jafar M Sidik

Ketika semua kangen penonton

Penonton virtual saat Final NBA antara Miami Heat dan Los Angeles Lakers di AdventHealth Arena, ESPN Wide World Of Sports Complex, Lake Buena Vista, Florida, pada 2 Oktober 2020. ANTARA/Kevin C. Cox/Getty Images/AFP/pri.

Jakarta (ANTARA) - Dalam dua jumpa pers terakhir dari dua pertandingan terakhir yang hasilnya berbeda, ada kata yang konstan terucap dari mulut manajer Manchester United Ole Gunnar Solksjaer, yakni "penonton".

"Aneh," kata dia, "menang melawan tim sefantastis Paris St Germain tetapi tidak ada yang merayakannya." Memang, tak ada penonton di dalam Stadion Parc des Princes ketika MU menang 2-1 atas tuan rumah saat itu.

Tiga hari kemudian pada 24 Oktober di Old Trafford usai menjamu Chelsea, lagi-lagi penonton yang diomongkan pelatih asal Norwegia ini.

Saat itu timnya cuma bisa bermain 0-0 melawan The Blues.

Baca juga: Manchester United dan Chelsea berbagi poin dalam skor kacamata

Ole tak menyalahkan pemain-pemainnya karena mereka sudah berusaha keras tetapi apa daya Edoard Mendy terlalu tangguh sehingga mungkin saja penjaga gawang ini bakal menyandang predikat kiper terbaik di Liga Inggris, bahkan mungkin dunia.

"Seandainya stadion ini dan Stretford End penuh kita bisa menciptakan tekanan dan urgensi lebih," kata Ole.

Stretford End adalah tribun di Old Trafford yang biasanya diduduki oleh pendukung-pendukung paling fanatik Setan Merah.

Bukan cuma Ole yang merasakan keanehan itu.

Banyak pelatih dan pemain Liga Inggris, serta kebanyakan atlet dari semua cabang olah raga yang bahkan termasuk golf dan catur yang butuh konsentrasi saja, merasa sebagian ruhnya hilang gara-gara tiada penonton.

Dan manakala sebagian ruh itu raib, hal-hal tidak lazim pun terjadi.

Real Madrid yang raja Eropa ditaklukkan oleh dua tim medioker, masing-masing Cadiz di La Liga dan Shakhtar Donetz di Liga Champions. Di Italia, Juventus yang bertabur bintang, ditahan seri 1-1 oleh tim anak bawang Crotone pada 18 Oktober.

Baca juga: Real Madrid dipermalukan tim promosi Cadiz
Baca juga: Tiga keputusan wasit bantu Crotone imbangi Juventus 1-1


Di Inggris lebih absurd lagi. Liverpool yang pada musim lalu jangankan dikalahkan, diajak bermain seri saja sulitnya minta ampun, malah ambruk 2-7 di tangan Aston Villa yang dulu nyaris terlempar ke divisi dua.

Baca juga: Aston Villa menggila, hajar Liverpool 7-2

Tidak hanya The Reds. Duo Manchester juga pernah menjadi bulan-bulanan lawan yang kelasnya di bawah mereka sampai-sampai Setan Merah harus mengandalkan penalti kontroversial yang diberikan saat pertandingan sudah berakhir untuk bisa mengalahkan Brighton.

Dugaan ketiadaan penonton sebagai penyebab ini semua terjadi pun kian kuat.

Lain dari itu tak ada penonton juga berarti tak ada pemasukan lebih. Ini yang dirasakan hampir semua tim olahraga di mana pun, termasuk Borussia Dortmund di Jerman yang mengandalkan pemasukan keuangan dari penonton yang datang ke stadion.

"Bertanding tanpa penonton itu bencana. Bermain di Dortmund, di stadion ini, tanpa satu penonton, sama sekali tak menyenangkan," kata Sebastian Kehl, ketua departemen pemain Dortmund.

Dalam sepak bola sendiri, suporter adalah pemain ke-12. Dukungan, teriakan, dan bahkan cemoohan mereka menjadi pemicu, pendorong dan oksigen tambahan yang memompa jantung pemain terus berdegup kencang saat berlaga.

Terlebih hal itu terjadi di zaman ini ketika atlet sudah menjadi bagian dari pertunjukan alias tontonan.

Selanjutnya atlet ...

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Berlatih basket bersama pemain NBA Jason Anthoney Richardson

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar