Pandemi COVID-19, "jeda" untuk revitalisasi wisata Bali

Oleh Ni Luh Rhismawati dan Komang Suparta

Pandemi COVID-19, "jeda" untuk revitalisasi wisata Bali

Seekor Lemur (Lemur catta) mengasuh anaknya yang baru berumur tiga hari dalam perayaan Hari Lemur Sedunia di Bali Zoo, Gianyar, Kamis (29/10/2020). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/foc.

Dukungan revitalisasi destinasi wisata Bali akan disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan di masing-masing destinasi wisata. Saat ini kebersihan dan kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi wisatawan.
Denpasar (ANTARA) - "Diam jauh lebih elegan daripada sibuk menghakimi kesalahan orang lain dan lupa bercermin," kata pegiat usaha mikro kecil dan menengah bidang fesyen, Marini Zumarnis tentang isi salah satu poster "personal touch" yang menjadi salah satu kiatnya dalam memikat konsumen.

Ya, masa Pandemi COVID-19 akan menjadi waktu luang atau kesempatan untuk memilih sikap, apakah bersikap untuk menyibukkan diri menghakimi (menyalahkan) orang lain, atau memanfaatkan waktu dengan sikap membenahi (bercermin) untuk akhirnya bergerak lebih baik ke depan.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memilih "jeda" pandemi COVID-19 untuk menyempurnakan fasilitas destinasi wisata di Bali demi meningkatkan kualitas sektor pariwisata melalui Program Revitalisasi Destinasi Wisata yang dimulai awal November 2020.

"Masih terdapat beberapa lokasi destinasi wisata di Bali yang amenitasnya belum memadai, sehingga fokus utama adalah perbaikan amenitas di sejumlah daya tarik wisata di Bali, berupa perbaikan toilet dan penambahan fasilitas lain untuk menunjang kebersihan, kesehatan, keamanan, serta kenyamanan wisatawan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat," kata Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Hari Sungkari dalam webinar (30/10/2020).

Menurut dia, hal itu penting karena salah satu ukuran suatu destinasi wisata itu bersih, indah, dan nyaman bisa dilihat dari toilet yang menunjang. "Penting sekali bagi destinasi wisata untuk memelihara dan menjaga kebersihan toilet sesuai dengan standar internasional," ujar Hari Sungkari.

Baca juga: Pandemi, perlu terobosan tingkatkan kinerja sektor pariwisata

Senada dengan itu, Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf Wawan Gunawan menjelaskan Program Revitalisasi Destinasi Wisata Bali akan dilakukan pada awal November 2020 pada satu kota dan delapan kabupaten di Bali (Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, Karangasem, Buleleng, Bangli, dan Jembrana).

"Dukungan revitalisasi destinasi wisata Bali akan disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan di masing-masing destinasi wisata. Saat ini kebersihan dan kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi wisatawan," katanya.

Selain itu, kegiatan lanjutan reaktivasi akomodasi tenaga kesehatan di destinasi wisata Bali adalah Kemenparekraf telah menyiapkan sebanyak 500 kamar di empat hotel di Bali, yaitu Hotel Mercure, Hotel Ibis Kuta, Hotel Ibis Denpasar, dan Paragon Resort Hotel.

"Ini dilakukan sebagai bentuk upaya pemulihan ekonomi nasional untuk membantu industri perhotelan di masa pandemi COVID-19," kata Wawan.

Di Klungkung, Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wawan Gunawan sempat bertemu Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta di pelataran parkir Pura Goa Lawah, Desa Pesinggahan (21/10/2020), untuk membahas Program Pengembangan Destinasi.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Staf Ahli Sekretaris Menteri, Ngurah Putra, itu, Bupati memanfaatkan dengan sebaik-baiknya tentang apa saja yang dibutuhkan dan menjadi program dalam penataan destinasi wisata, termasuk dalam pengembangan destinasi di tengah situasi pandemi saat ini.

Baca juga: AP I siap berperan aktif dalam pembentukan "holding" BUMN Pariwisata

Didampingi Kepala Dinas Pariwisata, A.A Gede Putra Wedana dan Kadis PU, A.A Lesmana, Bupati menyampaikan rencana penataan kios-kios pedagang dan penataan kawasan perbatasan (batas kabupaten), termasuk yang sudah dibangun yakni pembuatan rest area Goa Lawah.

"Beliau turun melihat destinasi dan secara khusus dalam waktu singkat akan membantu melakukan revitalisasi terhadap toilet-toilet yang ada di destinasi, terutama yang ada di Goa Lawah. Mudah-mudahan apa yang kita sampaikan bisa terealisasi segera," ujar Bupati Suwirta.


Trend wisatawan
Bagi Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa, tren wisatawan ke depan memang akan berubah. Wisatawan akan mencari destinasi wisata yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman, serta destinasi wisata yang menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungannya.

"Program revitalisasi ini sangat sesuai dengan tren wisatawan saat ini. Karena, faktor kebersihan dan kesehatan merupakan hal yang penting dalam meningkatkan kepercayaan wisatawan," kata Putu Astawa.

Ketua Bidang Water and Sanitation Asosiasi Toilet Indonesia Nani Sumaryati Firmansyah menambahkan program revitalisasi ini sangat baik untuk dilakukan, mengingat toilet merupakan fasilitas umum yang sangat diperlukan wisatawan. "Tidak harus mewah, tapi sarana dan perlengkapan toilet harus lengkap serta berfungsi dengan baik," katanya.

Setelah perbaikan, lanjut dia, pihak destinasi wisata maupun wisatawan harus sama-sama menjaga kebersihan dan keindahan toilet. "Setiap orang harus jadi intelegence of health. Kalau first impression wisatawan pada toilet suatu destinasi itu kotor,  mereka langsung menilai bahwa manajemennya buruk," katanya.

Tidak hanya program revitalisasi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio juga meluncurkan program "We Love Bali" sebagai bentuk edukasi sekaligus kampanye penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE bagi pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif serta masyarakat di Bali.

Baca juga: Program restorasi terumbu karang terbesar ditargetkan selesai Desember

Dalam peluncuran program We Love Bali, di Bali Safari Park (BSP) Gianyar Bali (14/10/2020), Wishnutama Kusubandio mengatakan program "We Love Bali" itu secara keseluruhan melibatkan 409 pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, 8.421 tenaga kerja serta 4.800 peserta dari masyarakat umum yang berasal dari Provinsi Bali.

"Kampanye CHSE itu diharapkan dapat membentuk 'safety awareness' yang perlahan tercipta dalam pola pikir (mindset) pelaku usaha di Bali dan juga wisatawan, karena mereka diajak meninjau destinasi dan melihat langsung penerapan protokol kesehatan yang dijalankan pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga masyarakat teredukasi dengan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE," katanya.

Ia menyebutkan terdapat 13 program perjalanan (famtrip) yang masing-masing akan berlangsung selama tiga hari dua malam ke berbagai destinasi di Bali. Program famtrip tahap pertama dijalankan ke destinasi di Denpasar, Lovina (Buleleng) dan Kintamani (Bangli), lalu tahap berikutnya ke Nusa Penida (Klungkung) dan seterusnya.

"BPS mencatat tingkat pertumbuhan Bali pada kuartal II/2020 anjlok 10,98 persen secara "year on year"(YoY). Dinas Pariwisata Bali juga mencatat kerugian ekonomi akibat pandemi COVID-19 sepanjang Maret sampai Juli 2020 mencapai Rp48,5 triliun atau sekitar Rp9,7 triliun per bulan, karena program 'We Love Bali' diharapkan dapat mendukung industri pariwisata Bali mulai bergerak dan kembali berkarya, sekaligus mengedukasi wisatawan dengan protokol CHSE," katanya.

Sejumlah peserta yang mengikuti program "We Love Bali" merasa puas dengan program yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Pemerintah Provinsi Bali itu.

"Saya memilih Nusa Penida dan Pulau Nusa Lembongan (Kabupaten Klungkung, Bali) sebagai destinasi wisata karena pemandangan alamnya sangat indah dengan berbagai potensi pariwisata, seperti tracking Kelingking Beach yang menantang," kata Septi Rahayu, salah satu peserta yang bekerja di maskapai penerbangan nasional itu (28/10/2020).

Baca juga: Menparekraf harap saluran TV SEA Today turut promosikan pariwisata RI

Septi Rahayu merasa puas mengikuti program 10 "We Love Bali" dengan rute perjalanan Sanur - Nusa Penida - Nusa Lembongan - Sanur karena dia bisa menikmati pemandangan pantai yang indah dan pasir putihnya. Bahkan dia sempat menjajal "Raja Lima" yang dilengkapi dengan pemandangan bernuansa rumah pohon yang memanjakan mata.

"Saya juga sempat berbincang dengan para petani rumput laut, yang sebelum masa COVID-19 mereka bekerja di bidang pariwisata. Saya merasa tersentuh dengan perjuangan mereka dalam bertahan hidup. Jadi, Bali siap untuk bangkit menyambut kedatangan wisatawan dengan dengan menerapkan kebiasaan baru, yaitu CHSE," katanya.

Setiap lokasi wisata disediakan wastafel dan sabun serta diukur suhu tubuh, di hotel pun disediakan satu kamar untuk satu orang. "Nanti setelah pandemi selesai, saya berjanji akan kembali ke Nusa Penida bersama keluarga. Banyak destinasi wisata pantai yang cantik dan instagramable, pulau ini masih alami," ucap Anggi dari Malang.

 

Oleh Ni Luh Rhismawati dan Komang Suparta
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kunjungan wisatawan domestik di Tanah Lot meningkat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar