Harga minyak jatuh di tengah "lockdown" Eropa dan Pilpres AS

Harga minyak jatuh di tengah "lockdown" Eropa dan Pilpres AS

Ilustrasi - Ladang minyak BP Eastern Trough Area Project (ETAP) di North Sea, sekitar 100 mill dari Aberdeen Skotlandia. ANTARA/REUTERS/Andy Buchanan/am.

Meskipun ada beberapa data minyak mentah bullish yang mengejutkan minggu ini, pasar minyak masih perlu bersaing dengan ketidakpastian permintaan utama terkait COVID-19
New York (ANTARA) - Harga minyak jatuh hampir satu persen pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), tertekan oleh terus meningkatnya infeksi Virus Corona diikuti oleh penguncian di negara-negara Eropa dan hasil Pemilihan Presiden (Pilpres AS yang masih belum diselesaikan.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 30 sen atau 0,7 persen, menjadi menetap pada 40,93 dolar AS per barel. Harga minyak mentah berjangan AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember merosot 36 sen atau 0,9 persen, menjadi 38,79 dolar AS per barel.

Kedua kontrak tersebut melonjak pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2020), dengan Brent dan WTI masing-masing terangkat 4,0 persen dan 3,8 persen.

Baca juga: Harga Emas melambung 50,6 dolar AS, jelang kemenangan Joe Biden

Komisi eksekutif Uni Eropa menurunkan perkiraan ekonominya, menambahkan bahwa ekonomi tidak akan pulih ke level sebelum virus sampai 2023.

"Meskipun ada beberapa data minyak mentah bullish yang mengejutkan minggu ini, pasar minyak masih perlu bersaing dengan ketidakpastian permintaan utama terkait COVID-19," kata Presiden Ritterbusch and Associates, Jim Ritterbusch, di Galena, Illinois, mengacu pada penurunan stok minyak mentah AS delapan juta barel.

Italia mencatat infeksi tertinggi satu hari pada Kamis, sementara Amerika Serikat melampaui 100.000 infeksi dalam sehari minggu lalu, sebuah rekor.

Baca juga: Saham Spanyol naik lagi hari ke-5, Indeks IBEX 35 melonjak 142,30 poin

Bank sentral Inggris (BoE) meningkatkan stimulus pembelian obligasi saat bersiap untuk kerusakan ekonomi dari penguncian baru virus corona dan risiko Brexit yang membayangi. Bank mengatakan ekonomi Inggris akan menyusut pada rekor 11 persen selama tahun 2020 secara keseluruhan.

"Ada kelelahan dari pasar karena penguncian yang diperbarui dan upaya serta kerusakan yang harus dilakukan terhadap ekonomi," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York. Penguncian di Eropa akan menghilangkan permintaan 1,5 juta barel per hari, Kilduff menambahkan.

Baca juga: Saham Jerman untung lagi hari ke-4, Indeks DAX 30 melonjak 1,98 persen

Kandidat Demokrat Joseph Biden memperkirakan kemenangan atas Presiden Donald Trump setelah memenangkan dua negara bagian AS yang kritis, sementara petahana Partai Republik itu menuduh penipuan tanpa bukti, mengajukan tuntutan hukum dan menuntut penghitungan ulang.

Penghitungan dan tren suara saat ini menunjukkan bahwa Partai Republik siap untuk mempertahankan kendali atas Senat AS, sementara Demokrat akan memegang mayoritas yang tipis di Dewan Perwakilan Rakyat.

Baca juga: Pengamat: Jika Biden menang, bakal picu aliran modal masuk ke RI

Baca juga: Indonesia penting bagi siapapun pemenang Pilpres AS, ini alasannya

Harga minyak telah melonjak pada Rabu (4/11/2020) di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, bersama-sama disebut OPEC+, akan menunda untuk mengembalikan dua juta barel per hari pasokan pada Januari, mengingat permintaan telah dilemahkan oleh penguncian baru COVID-19.

Baca juga: Saham Prancis naik 5 hari beruntun, Indeks CAC 40 melonjak 1,24 persen

Baca juga: Saham Inggris untung 4 hari beruntun, Indeks FTSE 100 naik 0,39 persen


Baca juga: Indonesia resmi resesi, IHSG sesi pertama ditutup melambung

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPBB menilai harga BBM terlalu mahal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar