Palangka Raya (ANTARA News) - Wilayah perairan laut Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memiliki potensi untuk pengembangan budidaya rumput laut.

"Ditinjau dari sisi lahan, usaha budidaya rumput laut di Kotawaringin Barat tidak banyak kendala," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalteng Darmawan di Palangka Raya, Jumat.

Ia mengatakan, jika dilihat potensi rumput laut di wilayah itu yang dapat dikembangkan khususnya di Kecamatan Kumai sekitar 180 hektare yang meliputi Desa Kubu 60 hektare, Sungai Bakai 30 hektare, Teluk Bogam 50 hektare, Keraya 30 hektare dan Sebuai 10 hektare.

Usaha budidaya rumput laut, katanya, hanya menggunakan teknologi murah dan sederhana, masa pemeliharaa relatif pendek atau hanya 45 hari sudah bisa dipanen, biaya per unit apabila menggunakan metode tali panjang cukup murah, dan permintaan pasar cukup tinggi.

Dengan budidaya, menurut dia, keuntungan yang bisa didapatkan antar alain berkurangnya jumlah pengangguran, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan bertambahnya pendapatan asli daerah.

Kemudian persaingan usaha semakin ketat sehingga roda perekonomian akan terus berjalan dan tercipta iklim usaha yang kondusif dan pada akhirnya akan tercipta kesejahteraan hidup masyarakat.

Darmawan mengatakan sasaran produksi rumput laut Kalteng berdasarkan hasil rapat nasional dalam rangka akselerasi pembangunan perikanan budidaya pada Februari 2010 di Surabaya adalah 150 ton.

"Apabila melihat potensi rumput laut di Kotawaringin Barat yang dapat dikembangkan, kami optimistis angka sasaran tersebut dapat terealisasi," katanya.

Terkait dengan usaha budidaya rumput laut di Kotawaringin Barat, katanya, untuk mendukung pengembangan budidaya tersebut pada tahun anggaran 2010, Pemerintah Provinsi Kalteng melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kalteng mengapresiasi kegiatan tersebut dengan memberikan bantuan.

Bantuan tersebut diberikan untuk 12 unit sarana pengembangan produksi rumput laut dengan sistem long line (garis panjang) di Teluk Bogam.

Bantuan yang diberikan terdiri atas tongkat pancang, tali rentang, tali pengikat, pelampung, jaring pengaman dan peralatan budidaya serta bibit rumput laut jenis "Gracilaria Sp" dan "Euchema Sp".

"Rumput laut merupakan aset ekonomi negara yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan dan energi serta memperbaiki lingkungan," katanya.
(T.KR-GR/N002/P003)

Pewarta: Luki Satrio
Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010