Jakarta (ANTARA News) - Pengamat perbankan Kostaman Thayib memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada akhir tahun ini akan berkisar 7,5 sampai 8 persen karena laju inflasi cenderung bergerak turun.

"Kami optimis BI Rate pada akhir tahun akan bisa mencapai angka 7,5-8 persen yang akan memicu pertumbuhan ekonomi nasional semakin tumbuh lebih baik," katanya di Jakarta, Senin.

Kostaman Thayib mengatakan, inflasi tahun ini segera akan turun, selain karena penurunan harga minyak juga adanya penurunan permintaan. "Sehingga harga kemungkinan juga akan menurun," katanya.

Ia memperkirakan, target inflasi BI 6,5 sampai 7,5 persen cukup realistis melihat perkembangan saat ini. "Jadi untuk target 6,5-7,5 persen cukup aman," katanya.

Menurut dia, penurunan tekanan inflasi tersebut akan membuat BI lebih leluasa dalam menurunkan suku bunga acuan BI rate guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Sebab penurunan BI rate sangat penting bagi upaya mendorong sektor riil," katanya.

Menurut dia, hingga semester pertama 2009, BI bisa menurunkan BI rate hingga menjadi delapan persen dari posisi saat ini yang sebesar 8,75 persen.

"Untuk turun lagi menjadi 7,5 persen hingga akhir tahun saya kira bisa namun saya rasa perlu banyak syarat yang kuat agar BI rate bisa mencapai 7,5 persen

Kostaman Thayib yang juga Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, mengatakan, penurunan BI yang berlanjut sangat ditunggu para nasabah bank yang mengharapkan perbankan juga menurunkan suku bunga kredit yang sampai saat ini masih belum turun.

Apabila suku bunga kredit bank turun, maka permintaan kredit oleh kreditor akan semakin tinggi untuk membuka usaha baru atau mendorong usahanya yang masih berjalan meski agak tersendat, katanya.

Indonesia, menurut dia merupakan negara di Asia yang pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, meski negara-negara lainnya khusus di Asia sudah masuk program Dana Moneter Intersional (IMF).

Karena itu kedepan peluang ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih besar cukup tinggi yang pada gilirannya akan mengurangi jumlah tenaga kerja yang saat ini membengkak, ucapnya.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009