Bogor (ANTARA News) - Aparat desa di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap teroris.

"Sejak pemberitaan itu, kami warga menjadi lebih waspada. Saya sudah menginstruksikan kepada aparat saya agar mendata ulang semua penduduk dan juga pendatang yang ada di desa ini," kata Kepala Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Syafrudin Jefri, Senin.

Peningkatan kewaspadaan dilakukan dengan melakukan pendataan ulang kepada warga desa dan para pendatang yang tinggal di kawasan yang dikenal sebagai tempat asal dari tersangka teroris yang ditembak mati oleh Densus 88 Mabes Polri beberapa waktu lalu di kawasan Cawang.

Syafrudin mengatakan, pendataan dilakukan untuk mengantisipasi adanya pengikut Achmad Maulana yang masih tinggal di desa.

Syaifudin mengatakan, Kampung Ciherang Pondok berada tidak jauh dari lokasi rumah istri Ahmad Maulana, di Ciherang Stim.

Ia menjelaskan pendataan dilakukan dengan mengecek KTP warga dan juga pendatang yang tinggal di desa tersebut. Hal ini dilakukan merujuk pada kekhawatiran warga adanya jaringan teroris binaan Ahmad Maulana di kampung mereka.

Apalagi, lanjut Syaifudin selama tinggal di Kampung Ciherang Ahmad Maulana sering membawa VCD tentang jihad dan buku-buku yang berisikan tentang jihad.

"Kita khawatir, ada beberapa warga yang terpengaruh dengan ajakan Maulana. Apalagi kami tidak ingin kampung kami dikenal sebagai kampung teroris," ungkapnya.

Sementara itu, Kapala Desa Cimande Hilir, Bunyamin juga melakukan hal serupa, tujuannya adalah sama yakni untuk mengantisipasi adanya teroris dan adanya warga yang terlibat menjadi teroris.

Pengawasan dilakukan dengan mendata ulang penduduknya terutama pendatang yang menikah dengan warganya.

Ahmad Maulana tersangka teroris yang ditembak mati tim Densus 88 Mabes Polri, tinggal di Desa Ciherang sejak tahun 1998.

Ia menikahi seorang gadis Pancawati bernama Maryamah, pada tahun 2009, Maryamah meninggal dunia akibat sakit keras.

Maulana memiliki seorang anak dari istri pertamanya yang dirawat oleh adik istrinya bernama Kholilah (17).

Selang beberapa waktu, Kholillah menikah dengan Maulana, hingga kini sampai kabar Maulana tewas ditembak Densus 88 Mabes Polri karena terlibat jaringan teroris, Kholillah sang istri sedang hamil empat bulan.

Sejak pemberitaan penembakan suaminya sebagai teroris, Kholillah menjadi depresi, mengurung diri dan tidak mau bertemu dengan warga.

Maulana di masyarakat tidak begitu dikenal masyarakat. Usai menikah dengan Maryanah dan Kholillah, Maulana tidak pernah tinggal lama di rumah istrinya.

Maulana jarang pulang lebih sering menghabiskan waktunya kerja di luar Bogor.

Maulana tewas ditembak, warga menolak jenazahnya dimakamkan di kampung halaman sang istri. Akhirnya Maulana dimakamkan di tempat tinggal orang tuanya di kawasan Ciputat. (LR/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010