Inggris, UE sepakat lakukan lebih banyak pembicaraan terkait Brexit

Inggris, UE sepakat lakukan lebih banyak pembicaraan terkait Brexit

Dokumentasi - Seorang pria mengibarkan bendera Inggris pada hari Brexit di London, Inggris, Jumat (31/1/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Henry Nicholls/am.

Karena itu kami menginstruksikan kepala negosiator kami untuk berkumpul kembali besok di Brussel. Kami akan berbicara lagi pada Senin malam.
London (ANTARA) - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menginstruksikan negosiator mereka untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan pada hari Minggu dalam upaya terakhir untuk menjembatani perbedaan yang signifikan.

Mengakui jarak dalam posisi mereka, keputusan para pemimpin untuk melanjutkan pembicaraan yang telah terhenti atas tiga masalah paling sulit menunjukkan kedua belah pihak masih percaya bahwa mereka dapat mengamankan kesepakatan yang mengatur hampir 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp14,147 kuadriliun perdagangan setahun.

Tetapi tidak jelas apakah keduanya telah mengubah posisi mereka untuk memungkinkan terobosan yang terbukti sulit dipahami sejak Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari dan memasuki masa transisi dengan sebagian besar aturan tidak berubah yang berjalan hingga akhir tahun.

Baca juga: Inggris teken perjanjian dagang besar pertama pasca-Brexit
Baca juga: Uni Eropa setuju perpanjang negosiasi kesepakatan dagang pascaBrexit


Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin mengatakan bahwa sementara mengakui keseriusan perbedaan mereka, "kami sepakat bahwa upaya lebih lanjut harus dilakukan oleh tim negosiasi kami untuk menilai apakah mereka dapat diselesaikan".

"Tidak ada kesepakatan yang layak jika masalah ini tidak diselesaikan," kata mereka setelah berbicara selama lebih dari satu jam pada hari Sabtu. "Karena itu kami menginstruksikan kepala negosiator kami untuk berkumpul kembali besok di Brussel. Kami akan berbicara lagi pada Senin malam."

Pembicaraan itu dihentikan pada hari Jumat karena adanya kesulitan terbaru dalam negosiasi berbulan-bulan yang hampir tidak bergerak di tiga bidang perselisihan - perikanan, memastikan jaminan persaingan yang adil dan cara untuk menyelesaikan perselisihan di masa depan.

Sumber dari kedua belah pihak mengatakan bahwa tuntutan Prancis atas hak penangkapan ikan di perairan Inggris tetap menjadi masalah utama, dan beberapa politisi di Partai Konservatif Johnson menyarankan bahwa pejabat Uni Eropa (UE) harus meyakinkan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mendukung kesepakatan.

Seorang pejabat Uni Eropa mengatakan jeda dalam pembicaraan adalah tentang sandiwara daripada substansi. "Masing-masing pihak membutuhkan sedikit drama untuk bisa menjual ini."

Johnson, tokoh kampanye Inggris untuk meninggalkan UE, harus mampu meyakinkan pendukung Brexit bahwa dia telah mendapatkan terobosan baru, merebut kembali apa yang dia sebut selama kampanye pemilihan tahun lalu tentang kedaulatan negara.

Von der Leyen tidak ingin menawarkan terlalu banyak ke London karena takut mendorong negara anggota lainnya untuk pergi dan juga harus memberikan kesepakatan yang tidak mengasingkan salah satu dari 27 negara tersebut.

Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin menyambut baik keputusan untuk melanjutkan pembicaraan, dengan mengatakan di Twitter: "Setiap upaya harus dilakukan untuk mencapai kesepakatan."

Jika kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan, perceraian Brexit selama lima tahun akan berakhir berantakan seperti Inggris dan Eropa bergulat dengan biaya ekonomi yang besar dari wabah COVID-19.

Negosiator Inggris dan Uni Eropa menghentikan pembicaraan perdagangan pada hari Jumat untuk memanggil para pemimpin mereka untuk mencoba mempersempit perselisihan dan mendapatkan kesepakatan setelah negosiasi selama seminggu gagal menjembatani perbedaan yang signifikan di antara kedua belah pihak.

Sumber : Reuters

Baca juga: Pasca-Brexit klub Inggris tak lagi bebas datangkan pemain Eropa
Baca juga: PM Irlandia: Biden inginkan perjanjian Brexit dengan Uni Eropa

 

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Edisi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar