PBB (ANTARA News) - Kesepakatan pertukaran bahan bakar dengan uraniun antara Iran dengan Turki dan Brazil secara teknis mustahil karena gagal mengalokasi waktu yang memadai untuk pembuatan bahan bakar, kata seorang diplomat barat, Senin.

"Hal ini secara teknis mustahil karena Iran ingin bahan bakar itu dibuat dalam tahun ini namun hal itu setidaknya membutuhkan waktu satu setengah tahun," kata seorang diplomat yang menolak untuk disebutkan namanya terkait pandangannya terhadap isu sensitif tersebut, sebagaimana dikutip dari AFP.

Kesepakatan itu menyeru Teheran untuk mengapalkan uraniumnya pengayaan rendahnya ke Turki dan kemudian menerima pasokan uranium yang telah dikayakan untuk memenuhi kebutuhan reaktor penelitian Teheran (TRR), yang membuat isotop untuk kebutuhan medis.

PBB mendukung kesepakatan itu agar Iran mengurangi cadangan uraniumnya dibawah kebutuhan yang diperlukan untuk membuat bom pertama.

Aktivitas pengayaan uranium Iran menjadi kekhawatiran karena uranium yang dikayakan hingga 90 persen dapat digunakan untuk membuat bom atom.

Iran telah mengayakan uraniumnya hingga lebih dari lima persen dalam apa yang disebutnya sebagai upaya untuk membuat bahan bakar bagi reaktornya yang diperuntukan untuk tujuan sipil.

Bahan bakar yang diperlukan Iran untuk bahan bakar reaktor penelitiannya hanya dikayakan dibawah 20 persen, sebuah kadar yang mendekati kadar yang diperuntukkan untuk senjata.

Iran secara resmi memberitahu Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB, Senin, mengenai kesepakatan pertukaran bahan bakarnya dengan Turki dan Brazil.
(G003/A024)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010