MPR: Tidak boleh ada pengingkaran terhadap fitrah kebangsaan

MPR: Tidak boleh ada pengingkaran terhadap fitrah kebangsaan

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo hadir dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Bali, Selasa (22/12/2020). ANTARA/HO-Aspri.

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menjelaskan bahwa nilai-nilai keagamaan merupakan fitrah kebangsaan yang diwariskan para "founding fathers" sehingga tidak boleh ada pengingkaran dalam bentuk apa pun terhadap fitrah kebangsaan tersebut.

"Saat ini di Indonesia telah diakui 6 agama, di samping masih ada puluhan aliran kepercayaan yang ada. Keberagaman kehidupan beragama merupakan kekayaan heterogenitas yang kita miliki sebagai sebuah bangsa, dari sekitar 270 juta penduduk Indonesia, terdapat 733 bahasa dan 1.340 suku yang hidup tersebar di kepulauan Nusantara," kata Bambang Soesatyo atau Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Hal itu dikatakan Bamsoet dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Bali, Selasa.

Baca juga: Ketua MPR ingatkan tiga tantangan bangsa

Bamsoet menjelaskan bahwa isu agama mempunyai sensitivitas yang tinggi sehingga jika tidak dikelola dengan baik, dapat tumbuh menjadi konflik horizontal serta dijadikan sebagai media untuk memecah belah dan mengadu domba di antara sesama anak bangsa.

Dia mengatakan Bangsa Indonesia patut bersyukur karena memiliki Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menyatukan berbagai keberagaman tersebut dalam satu ikatan kebangsaan.

"Kita juga patut bersyukur bahwa berdasarkan data Kementerian Agama, Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) di Indonesia pada periode tahun 2019 mencapai angka rata-rata 73,83, atau meningkat 2,93 poin dari tahun 2018 sebesar 70,90. Khusus untuk Provinsi Bali, IKUB pada tahun 2019 berada di atas rata-rata IKUB Nasional, yaitu sebesar 80,1," ujarnya.

Baca juga: MPR ajak semua elemen perkuat wawasan kebangsaan

Selain itu, dia menilai Bali sebagai representasi "wajah pariwisata" Indonesia, juga menjadi pusaran arus peradaban yang masuk melalui kehadiran jutaan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Menurut dia, kehadiran wisatawan memang telah menyumbangkan kontribusi penting dalam memajukan perekonomian namun juga harus menyadari bahwa pariwisata bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai paham, yang jika tidak kita sikapi dengan hati-hati, dapat menggerus nilai-nilai kearifan lokal bangsa.

"Daya tarik Bali tidak hanya dari keindahan alamnya, tetapi juga dari keramah-tamahan penduduk dan kekhasan adat istiadat serta budaya, yang sangat kental diwarnai nilai-nilai ajaran agama Hindu," katanya.

Baca juga: MPR ajak masyarakat terapkan nilai-nilai kebangsaan

Politikus Partai Golkar itu menilai peran penting UHN I Gusti Bagus Sugriwa sebagai institusi akademis yang lekat dengan agama Hindu, untuk menjaga, mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal tersebut melalui implementasi dharma perguruan tinggi.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar