BPPT: Efisiensi-diversifikasi jenis kendaraan kurangi konsumsi BBM

BPPT: Efisiensi-diversifikasi jenis kendaraan kurangi konsumsi BBM

Sejumlah pegawai PT Adhi Karya (Persero) duduk di dalam kereta api ringan atau Light Rail Transit (LRT) saat uji coba lintasan LRT Jabodebek TMII-Cibubur di Jakarta, Rabu (11/11/2020). Menurut Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Entus Asnawi Mukhson, moda transportasi massal itu ditargetkan beroperasi penuh sekitar bulan Juni 2022 dikarenakan masih terganjal pada dua titik pembebasan lahan yakni di kawasan Dukuh Atas dan Bekasi yang diperuntukkan sebagai depo. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Semakin efisien kendaraan maka semakin sedikit energi yang digunakan
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan langkah efisiensi dan diversifikasi jenis kendaraan dapat mengurangi penggunaan atau konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

"Semakin efisien kendaraan maka semakin sedikit energi yang digunakan," kata Hammam dalam seminar virtual (webinar) Peluang dan Tantangan Substitusi BBM di Sektor Transportasi di Jakarta, Kamis.

Indonesia sudah sejak 2003 menjadi "net importir" minyak. Pada 2019, Indonesia melakukan impor BBM sebanyak 769.000 barel per hari untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Baca juga: BPPT berfokus pada teknologi kebencanaan hingga transportasi

Jika impor BBM terus menerus terjadi maka beban defisit neraca perdagangan Indonesia akan semakin membesar.

Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan inovasi dalam peningkatan efisiensi kendaraan dan diversifikasi jenis kendaraan.

"Dengan diversifikasi diharapkan ketergantungan terhadap hanya satu jenis bahan bakar (BBM) ini dapat kita hindari," ujar Hammam.

Menurut Hammam, jenis kendaraan dan bahan bakar berpengaruh terhadap penggunaan energi. Karenanya, perlu dilakukan peningkatan efisiensi dan diversifikasi bahan bakar juga.

Baca juga: 65,2 persen pengguna skuter listrik untuk rekreasi bukan transportasi

Hammam menuturkan dalam upaya mengendalikan pemenuhan energi di sektor transportasi, ada empat faktor yang berpengaruh pada penggunaan energi di sektor transportasi, yakni alat transportasi, infrastruktur transportasi, kebutuhan, dan struktur spasial.

Ke depan alat transportasi yang bisa memberikan tingkat efisiensi kendaraan yang tinggi, menjadi sasaran dalam upaya pengurangan konsumsi BBM.

Kendaraan juga dikembangkan untuk bisa menggunakan bahan bakar lain seperti bahan bakar nabati dan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan agar mengurnagi ketergantungan pada BBM. Oleh karenanya, muncul kendaraan hybrid dan kendaraan listrik.

Baca juga: Riset: Grab pimpin pasar transportasi online Indonesia dan Vietnam

Infrastruktur transportasi seperti kapasitas jalan tol dan jalan raya juga berpengaruh pada penggunaan energi di sektor transportasi.

Dari sisi kebutuhan, adanya aktivitas ekonomi tinggi akan mendorong penggunaan energi yang lebih besar, dan akhirnya berdampak pada harga dan ketersediaan bahan bakar.

Demikian pula dari faktor struktur spasial, distribusi populasi dan aktivitas untuk perpindahan barang dan orang juga akan berdampak pada banyaknya penggunaan energi.

Hammam menuturkan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk tujuan mengurangi penggunaan energi antara lain efisiensi kendaraan sehingga hemat bahan bakar dan rendah emisi atau ramah lingkungan, serta diversifikasi jenis kendaraan.

"Kita haruslah bisa melaksanakan diversifikasi jenis kendaraan dari yang berbahan bakar menjadi mobil listrik atau sepeda motor listrik kendaraan listrik atau transisi kendaraan hybrid," tuturnya.

Baca juga: Kemenhub gelar konferensi internasional riset transportasi

 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BPPT haruslah menjadi pusat kecerdasan teknologi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar