Dokter: COVID-19 berisiko picu gangguan fungsi tubuh

Dokter: COVID-19 berisiko picu gangguan fungsi tubuh

Petugas medis (tengah) menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) bersama pasien COVID-19 yang berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) saat kegiatan senam pagi di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/12/2020). Kegiatan senam tersebut rutin dilakukan setiap pagi hari untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang menjalani isolasi. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/foc.

Padang (ANTARA) - Spesialis Rehabilitasi Medik Semen Padang Hospital (SPH) Padang dr Adek, Sp. KFR mengemukakan individu yang terpapar COVID-19 rentan mengalami gangguan fungsi tubuh.

"Berdasarkan pengalaman pasien yang menjalani perawatan di Intensive Care Unit (ICU) selama berhari-hari atau bahkan berpekan-pekan bisa berisiko mengalami berbagai gangguan fungsi," kata dia di Padang, Jumat.

Secara medis hal itu disebut Deconditioning Syndrome yaitu sekumpulan gejala yang menurunkan kapasitas fungsional akibat imobilisasi/lama berbaring di tempat tidur.

Adek mengungkap gejala yang ditemukan antara lain gangguan dalam bersihan jalan nafas, penurunan masa atau ukuran otot, osteoporosis, kemampuan pompa jantung yang menurun, luka pada bagian kulit yang mengalami penekanan dan lainnya.

Baca juga: Polda Sumbar tegur masyarakat 19.427 kali saat libur akhir tahun

Baca juga: Polda Sumbar catat 879 personel terpapar COVID-19


Ia menyarankan untuk menghindari terjadinya gangguan fungsi tubuh tersebut, dibutuhkan program rehabilitasi medik.

"Peran rehabilitasi medik mencegah komplikasi akibat berbaring lama serta meningkatkan kapasitas fungsional atau kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sesuai dengan potensi yang masih dimiliki pasien," kata dia.

Dokter Adek menyampaikan untuk kasus pasien yang mendapat perawatan di ICU dan harus menggunakan ventilator, program rehabilitasi dapat berupa posisioning.

Posisioning bertujuan memperbaiki oksigenasi ke jaringan. Selain itu posisioning juga bertujuan mencegah terjadinya luka pada kulit yang mengalami penekanan saat berbaring lama.

Untuk membantu bersihan jalan nafas juga dibutuhkan chest physical therapy atau terapi fisik dada.

Disamping itu latihan lingkup gerak sendi aktif/ pasif juga perlu guna mencegah kekakuan sendi, dan mencegah penurunan masa otot, ujarnya.

"Mobilisasi dan latihan aktif lainnya juga bisa dilakukan jika kondisi hemodinamik pasien sudah stabil. Hal itu tentunya dapat membantu pasien agar tetap bugar dan menghindari timbulnya penyakit lainnya," katanya lagi.

Di sisi lain, pasien yang stabil dengan gejala yang ringan, program rehabilitasi yakni dengan memberikan edukasi pada pasien untuk latihan mandiri dan aktif, seperti melakukan latihan pernafasan, latihan pengembangan rongga dada, latihan batuk efektif, latihan endurance/ ketahanan otot dan kardiorespirasi.

Seluruh latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fungsional pasien, sehingga pasien kembali dapat berfungsi seperti kondisinya sebelum sakit dan kembali berpartisipasi dalam kehidupan di keluarga dan masyarakat, katanya.

Rehabilitasi medik merupakan salah satu cabang spesialisasi kedokteran yang berorientasi pada gangguan fungsi. Program rehabilitasi bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi yang ada pada pasien, berdasarkan potensi yang dimiliki, guna meningkatkan kualitas hidup pasien.

Kasus yang ditangani pada bidang rehabilitasi meliputi gangguan tumbuh kembang anak, gangguan fungsi akibat masalah muskuloskeletal (otot dan rangka tubuh), gangguan fungsi akibat masalah sistem saraf baik saraf pusat atau saraf tepi, gangguan fungsi pernafasan, gangguan fungsi pada usia lanjut( geriatri), dan lainnya.*

Baca juga: Kejari Padang pindahkan puluhan tahanan pernah reaktif COVID-19

Baca juga: Padang alami penambahan 86 kasus sembuh COVID-19

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Denpasar sasar 16.690 penerima vaksin gelombang dua

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar