Kedelai Batan lebih tinggi protein-rendah lemak daripada kedelai impor

Kedelai Batan lebih tinggi protein-rendah lemak daripada kedelai impor

Varietas kedelai unggul Sugentan 1 dan Sugentan 2, yang dikembangkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Sumber: ANTARA/HO-Humas Batan/aa.

Dengan keunggulan pada varietas kedelai tersebut, petani semakin tertarik menanamnya
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan mengatakan rata-rata varietas-varietas kedelai unggul yang diciptakan Batan memiliki protein yang lebih tinggi dan lemak yang lebih rendah dibanding kedelai impor.

"Kedelai Batan lebih tinggi protein dibanding kedelai impor," kata Anhar dalam konferensi pers virtual, Jakarta, Rabu.

Dari hasil penelitian, Anhar menuturkan rata-rata kandungan protein dari varietas kedelai Batan yang sebesar 39,82 persen lebih tinggi dibandingkan kedelai impor yang sebesar 37,1 persen.

Rata-rata kandungan lemak kedelai Batan sedikit lebih rendah, yakni sebesar 17,61 persen, dibandingkan kedelai impor yang sebesar 19,41 persen.

Anhar menuturkan hingga saat ini ada 14 varietas kedelai unggul yang telah dikembangkan Batan, yaitu Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, Mitani, Mutiara 1, Mutiara 2, Mutiara 3, Gamasugen 1, Gamasugen 2, Kemuning 1, Kemuning 2, Sugentan 1, dan Sugentan 2.

Baca juga: BATAN hasilkan dua varietas kedelai baru super genjah

Baca juga: Batan kembangkan varietas padi unggul-tanaman sela untuk swasembada


Khusus untuk Sugentan 1 dan Sugentan, saat ini sedang menunggu Surat Keputusan Menteri Pertanian. Dua varietas kedelai unggul yang baru itu sudah mendapatkan rekomendasi calon varietas tanaman pangan sebagai varietas unggul dari Tim Penilai Varietas Tanaman Pangan pada Desember 2020.

Kandungan protein pada kedelai Kemuning 1 sebesar 39,4 persen sementara kandungan lemaknya sebesar 15,89 persen.

Pada kedelai Mutiara 1, kandungan protein sebesar 37,7 persen dan kandungan lemak sebesar 13,8 persen.

Pada kedelai Mitani, kandungan protein sebesar 42,56 persen dan kandungan lemak sebesar 20,8 persen.

Anhar mendorong untuk menggunakan kedelai lokal dari varietas unggul yang tentunya jauh lebih segar, sehat dan enak.

Anhar menuturkan varietas-varietas unggul tersebut dikembangkan dengan sasaran meningkatkan produktivitas, mempersingkat umur tanam, dan membuat tanaman lebih tahan hama.

"Dengan keunggulan-keunggulan pada varietas kedelai tersebut, petani di Indonesia semakin tertarik menanamnya dalam rangka meningkatkan pendapatan para petani dan mendukung upaya swasembada kedelai di Indonesia," katanya.

Baca juga: Batan kembangkan kedelai "tanaman sela" untuk produktivitas lahan

Baca juga: Batan: Kedelai Mutiara 2 cocok untuk petani

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Indonesia siapkan nuklir untuk perangi kelaparan part III (Habis)

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar