Kemendikbud: Pemberian umpan balik belum menjadi budaya

Kemendikbud: Pemberian umpan balik belum menjadi budaya

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno dalam rapat kerja dengan Komisi X yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu (27/1). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan pemberian umpan balik dalam proses belajar mengajar belum menjadi budaya.

“Banyak siswa yang mengungkapkan bahwa guru pada banyak pembelajaran hanya memberikan umpan balik berkisar antara 30 hingga 55 persen,” ujar Totok, dalam rapat panja peta jalan pendidikan dengan Komisi X DPR yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu.

Padahal, lanjut Totok, pemberian umpan balik tersebut memiliki manfaat yang sangat tinggi dalam perbaikan pembelajaran dan berbiaya rendah. Totok menambahkan hal itu digali berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) 2018.

Menurut dia, perbaikan strategi pembelajaran merupakan intervensi yang paling efektif dan efesien. Upaya yang perlu dilakukan, mulai dari umpan balik dari siswa, strategi metakognisi, belajar bersama, pembelajaran kolaboratif, mengurangi jumlah siswa hingga di bawah 20 siswa per kelas, mendampingi siswa, dan lainnya.

“Strategi metakognisi membaca berpengaruh positif dan nyata terhadap capaian PISA 2018 siswa Indonesia. Siswa yang memperoleh berbagai strategi metakognisi membaca memiliki skor membaca lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak,” ujar dia.

Dia menambahkan berdasarkan laporan Bank Dunia, ternyata tunjangan profesi guru belum berpengaruh nyata terhadap hasil belajar siswa. Rata-rata skor kompetensi guru, mulai dari jenjang SD hingga SMK, yakni 57 dari 100.

Ke depan, kata Totok, Kemendikbud akan memberikan tunjangan tidak hanya kepada seluruh guru, tetapi hanya pada guru yang dinilai berprestasi.

“Semua guru yang mengabdi, harus mendapatkan penghasilan layak. Namun tunjangan yang diberikan belum berpengaruh pada hasil belajar, maka ke depan kami berharap tunjangan hanya akan diberikan kepada guru dengan kompetensi baik atau yang memiliki kinerja yang baik,” ujar Totok.

Di dalam kelas pun, menurut dia, belum tercipta iklim diskusi yang baik. Interaksi yang dilakukan para guru dan siswa juga masih sedikit.

Ke depan, dia berharap Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 yang sedang disusun dapat menciptakan iklim untuk merangsang para guru lebih interaktif di dalam kelas.

Pewarta: Indriani
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar