Kasus positif COVID-19 dunia lewati angka 100 juta

Kasus positif COVID-19 dunia lewati angka 100 juta

Seorang tenaga kesehatan menggunakan pakaian hazmat dan pelindung diri saat bersiap melakukan proses kremasi kepada jenazah seorang pria yang meninggal dunia akibat terpapar penyakit virus corona atau COVID-19 di sebuah krematorium di Kota New Delhi, India, Senin (28/9/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi/wsj.

Bangalore (ANTARA) - Jumlah penderita COVID-19 dunia pada Rabu melampaui angka 100 juta jiwa, menurut hitungan Reuters, sementara negara-negara bergulat mengendalikan wabah dari varian baru virus serta lambatnya distribusi vaksin.

Hampir 1,3 persen dari total penduduk dunia telah terserang COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). 

Sudah lebih dari 2,1 juta orang meninggal akibat penyakit itu.

Sejak awal 2021, rata-rata satu orang terserang COVID-19 tiap 7,7 detik.

Kurang lebih 668.250 kasus positif dilaporkan oleh otoritas berbagai negara tiap harinya dan tingkat kematian global mencapai angka 2,15 persen.

Negara-negara yang paling parah terdampak COVID-19 di antaranya adalah Amerika Serikat, India, Brazil, Rusia, dan Inggris. Jumlah penderita COVID-19 dari lima negara itu mencakup lebih dari setengah total kasus positif dunia atau sekitar 28 persen populasi global, demikian hasil analisis Reuters.

Warga dunia butuh waktu sampai 11 bulan untuk sampai pada kasus positif ke-50 juta, tetapi hanya tiga bulan untuk menyentuh angka 100 juta jiwa.

Sekitar 56 negara telah memulai vaksinasi COVID-19 dan kurang lebih 64 juta dosis vaksin telah disuntikkan pada kalangan tenaga kesehatan.

Israel menempati urutan teratas untuk jumlah vaksinasi per kapita terbesar dan otoritas setempat telah memberikan dosis pertama vaksin COVID-19 pada kurang lebih 29 persen warganya.


Amerika Serikat dan Eropa

Amerika Serikat melaporkan lebih dari 25 juta kasus positif COVID-19 atau 25 persen dari total jumlah penderita COVID-19 dunia.

AS masih mengisi posisi teratas sebagai negara dengan kasus positif COVID-19 harian terbanyak. Sedikitnya satu dari lima korban jiwa yang dilaporkan tiap harinya ada di Amerika Serikat.

Kasus kematian COVID-19 di AS mencapai 425.000 jiwa, hampir dua kali dari jumlah korban jiwa di Brazil, negara dengan kasus kematian COVID-19 tertinggi kedua dunia.

Sementara itu, negara-negara Eropa melaporkan satu juta kasus positif per empat hari sehingga totalnya hampir mencapai 30 juta jiwa. Kasus kematian COVID-19 di Inggris telah mencapai 100.000 jiwa, Selasa (26/1).

Negara-negara di Eropa saat ini menghadapi pengurangan jatah vaksin dari dua produsen utamanya, yaitu AstraZeneca Plc dan Pfizer Inc.


Asia dan Afrika

India, negara yang menempati urutan kedua untuk kasus positif terbanyak dunia, mulai mengalami penurunan kasus positif. Setidaknya, hampir 13.700 pasien positif dilaporkan oleh otoritas setempat per harinya.

Perdana Menteri India Narendra Modi minggu lalu mengatakan India mengandalkan persediaan vaksin dalam negeri karena negara itu akan memvaksin lebih dari satu juta jiwa dalam waktu satu minggu sejak program vaksinasi dimulai.

Sementara itu, China masih menghadapi gelombang penularan baru di dalam negerinya sejak Maret 2020.

Afrika, yang saat ini menghadapi varian COVID-19 baru yang ditemukan di Afrika Selatan dan Inggris, masih berupaya mengamankan persediaan vaksin sementara banyak negara Barat menimbun vaksin COVID-19.

Menurut data Reuters, negara-negara Afrika melaporkan hampir 3,5 juta kasus positif dan 85.000 di antaranya meninggal dunia.

Varian baru COVID-19 yang ditemukan di Afrika Selatan, disebut dengan 501Y.V2, diketahui 50 persen lebih cepat menular daripada jenis COVID-19 yang umum. Varian baru itu telah ditemukan di 20 negara.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan melarang hampir seluruh warga asing yang punya riwayat perjalanan ke Afrika Selatan memasuki AS mulai Sabtu demi mencegah masuknya varian baru COVID-19.

Australia dan Selandia Baru relatif berhasil mengendalikan penyebaran COVID-19 berkat kebijakan tutup perbatasan yang cepat, penutupan wilayah, aturan karantina di hotel yang ketat untuk para pendatang, serta pemeriksaan atau tes COVID-19 yang masif.

"Kami telah mengendalikan penyebaran virus di Australia, tetapi kami ingin segera memulai vaksinasi," kata Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg saat acara jumpa pers, akhir pekan lalu.

Sumber: Reuters


Baca juga: WHO keluarkan imbauan klinis baru untuk pengobatan pasien COVID

Baca juga: WHO: Negara miskin akan terima vaksin pertama COVID kuartal I 2021

Baca juga: EU akan berbagi kelebihan pasokan vaksin COVID-19 dengan negara miskin


 

Pemerintah Indonesia upayakan pengadaan vaksin multilateral COVAX pada 2021


 

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar