Menko: Prioritaskan penanganan perempuan dan anak pascagempa

Menko: Prioritaskan penanganan perempuan dan anak pascagempa

Menteri Kordinator Bidang pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy berkunjung di tempat pengungsian korban gempa bumi, di Mamuju Sulawesi Barat, Kamis (28/1/2021). ANTARA FOTO /Akbar Tado/hp/pri.

Kelihatannya sepele, hanya sekian bulan. Tapi itu akan memengaruhi generasi kita akan datang
Mamuju (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta Satgas Penanggulangan Bencana untuk memprioritaskan penanganan perempuan dan anak pascagempa Bumi bermagnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat.

"Kalau ada perempuan, apalagi yang sedang hamil atau baru melahirkan atau sedang menyusui masih berada di bukit-bukit yang terisolir, segera evakuasi menggunakan helikopter untuk dapat segera mendapatkan penanganan dengan baik," kata dia di Posko Induk Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Sulbar, di kawasan Kantor Gubernur Sulbar di Mamuju, Kamis.

Kemenko PMK saat ini tengah membangun paradigma baru penanganan bencana, dengan melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

"Kami saat ini sedang membangun paradigma baru pada penanganan bencana, yakni utamakan dahulu para perempuan dengan segala kebutuhannya setelah itu anak-anak kita," ujarnya.

Ia mengaku telah meminta dukungan Kementerian PPPA terkait dengan hal tersebut.

"Saya meminta dukungan penuh dari Kementerian PPPA dan sekarang kami bersama Menteri PPPA Ibu Bintang Puspayoga yang akan tinggal di sini (Mamuju, red.) dalam beberapa hari," kata dia.

Baca juga: Rumah Sakit Lapangan TNI-AD lakukan SC pada warga korban gempa

Perempuan dan anak, kata dia, kelompok paling rentan dan mudah terguncang akibat gempa.

"Perempuan memiliki karakter yang sangat rentan, pasti mereka ada yang mengandung, mungkin ada yang sedang melahirkan atau mungkin ada yang menyusui sehingga mereka membutuhkan perhatian," katanya.

Jika pada fase-fase itu, kata dia, mereka terlewatkan penanganan dari dampak gempa, maka bisa berakibat panjang baik terhadap bayi maupun ibu.

"Kelihatannya sepele, hanya sekian bulan. Tapi itu akan memengaruhi generasi kita akan datang. Bayangkan kalau seandainya ibu-ibu yang mengandung ini tidak mendapatkan asupan gizi yang baik kemudian stresnya juga tidak dipulihkan maka kemungkinan dapat melahirkan bisa jadi bayinya terganggu," kata dia.

Baca juga: BNPB targetkan penyelesaian dampak gempa Sulbar selesai enam bulan

Dampak lainnya juga menyangkut tumbuh kembang anak.

"Dan kalau sudah terganggu dan sampai pada tingkat 'stunting' atau sampai secara fisik terganggu maka dampaknya akan terlihat 30 tahun akan datang dan itu berarti akan ditanggung masyarakat Sulbar," katanya.

Menko PMK Muhadjir Effendy dengan didampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga serta Menteri Sosial Tri Rismaharini berkunjung ke Sulbar untuk melihat langsung kondisi para pengungsi pascagempa di Mamuju dan Majene.

Sebelum ke Posko Induk Penanggulangan Bancana Gempa Bumi Sulbar di Kompleks Kantor Gubernur Sulbar, Muhadjir Effendy bersama Bintang Puspayoga dan Tri Rismaharini mengunjungi para pengungsi di Desa Sulai, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene.

Selanjutnya, rombongan meninjau lokasi pengungsian di Stadion Manakarra Mamuju.

Baca juga: Satgas Gempa Sulbar: Penanganan pengungsi sudah berjalan baik
 

Pewarta: Amirullah
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

53 ton bantuan kemanusiaan dari warga Babel bagi korban gempa Sulbar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar