Studi: Beberapa atlet penyintas COVID-19 menderita penyakit jantung

Studi: Beberapa atlet penyintas COVID-19 menderita penyakit jantung

Sebuah poster pemain guard Utah Jazz Donovan Mitchell (45) tergantung di dekat sebuah jalan masuk kosong di Vivint Smart Home Arena, dimana Utah Jazz yang seharusnya bertanding melawan New Orleans Pelican, menyusul penundaan pertandingan NBA setelah dua pemain Utah Jazz dites positif virus korona (COVID-19), di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, Jumat (13/3/2020). (USA TODAY Sports/Jeffrey Swinger)

Jakarta (ANTARA) - Penelitian yang ditulis oleh ahli medis dari Major League Baseball (MLB), National Basketball Association (NBA) dan beberapa liga olaharga Amerika Utara lainnya menunjukkan bahwa terdapat sejumlah kasus penyakit inflamasi jantung di antara atlet profesional yang pernah menderita kasus COVID-19 ringan.

Personel medis dari MLB dan NBA, bersama dengan National Football League (NFL), National Hockey League (NHL), Major League Soccer (MLS) dan Women's National Basketball Association (WNBA) mengumpulkan data para atlet dari Mei hingga Oktober 2020, saat olahraga profesional di Amerika Utara perlahan kembali beraksi setelah pembatasan sosial terkait virus corona.

Studi retrospektif yang pertama dilakukan pada enam liga dan diterbitkan oleh JAMA Cardiology menunjukkan bahwa lima dari 789 atlet yang dites positif COVID-19 dalam kurun waktu itu ditemukan menderita penyakit inflamasi jantung setelah menjalani pemeriksaan.

"Ini menunjukkan bahwa dalam populasi atlet itu aman untuk kembali dan penyakit jantung inflamasi relatif jarang terjadi," kata direktur medis MLB, Dr. Gary Green yang memastikan bahwa semua dapat kembali bermain.

"Tidak ada orang dalam penelitian tersebut yang dirawat di rumah sakit karena infeksi COVID-19 dan tidak ada yang diklasifikasikan sebagai "sakit parah," kata Green, dikutip dari Reuters, Jumat.

Baca juga: NBA bisa jadi pionir kompetisi olahraga konsumen vaksin COVID-19 

Lebih dari setengah juta orang di Amerika Serikat meninggal karena virus corona, sementara pejabat pemerintah terus berjuang untuk meluncurkan vaksin dan membendung penyebaran virus menular itu.

"Penelitian ini dirancang untuk menjawab ketidakpastian, tentang apakah inflamasi jantung muncul pada orang yang menderita penyakit COVID-19 ringan atau asimtomatik," ujar konsultan ahli jantung untuk NBA sekaligus salah seorang penulis studi tersebut Dr. David Engel.

Banyak atlet profesional telah memilih untuk tidak bermain sejak pandemi COVID-19 pertama kali terjadi di Amerika Utara, di tengah kekhawatiran akan dampak jangka panjang dari virus tersebut.

Baca juga: NBA tak berniat hentikan kompetisi walaupun COVID merajalela 

Pitcher Boston Red Sox Eduardo Rodriguez melewatkan musim 2020 setelah terjangkit virus corona dan kemudian didiagnosis menderita miokarditis. Sejak saat itu, dia berencana untuk mulai bermain pada 2021.

"Menjadi atlet tidak serta merta melindungi mereka jika dibandingkan dengan orang lain seusia mereka yang bukan atlet," kata Engel.

"Inflamasi jantung dengan COVID-19 atau virus apa pun menimbulkan risiko unik bagi atlet karena miokarditis. Jika ada, dapat menyebabkan aritmia yang mematikan atau berbahaya saat jantung terangsang," dia menambahkan.

Laporan tersebut juga menyajikan sedikit wawasan tentang dampak virus corona pada atlet wanita, dengan WNBA satu-satunya liga wanita Amerika Utara yang termasuk dalam penelitian tersebut. Hanya 12 pemain WNBA yang dinyatakan positif COVID-19 selama jangka waktu penelitian. 

Baca juga: NBA akan wajibkan pemain gunakan alat deteksi COVID-19 
Baca juga: Dokter : Rutin latihan fisik 30 Menit turunkan risiko terkena COVID-19 

 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Rr. Cornea Khairany
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Lagi, 6 atlet dayung Sultra bergabung Pelatnas

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar