Wall Street berakhir "rebound", Indeks Dow Jones melonjak 572,16 poin

Wall Street berakhir "rebound", Indeks Dow Jones melonjak 572,16 poin

Ilustrasi - Pialang sedang bekerja di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Brendan McDermid/am.

Minggu depan, saya memperkirakan volatilitas akan berlanjut, dengan banyak peluang, dengan saham-saham tertentu yang dijual berpotensi rebound
New York (ANTARA) - Wall Street berakhir menguat tajam setelah sesi volatil pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), rebound dari kerugian sesi sebelumnya terangkat saham-saham teknologi, dengan Nasdaq bangkit kembali namun masih mencatat kerugian sekitar 10 persen dari rekor tertinggi Februari.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 572,16 poin atau 1,85 persen menjadi ditutup di 31.496,30 poin. Indeks S&P 500 bertambah 73,47 poin atau 1,95 persen, menjadi menetap di 3.841,94 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 196,68 poin atau 1,55 persen, menjadi berakhir di 12.920,15 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi melonjak 3,87 persen seiring kenaikan tajam harga minyak, memimpin keuntungan.

Baca juga: Dolar menguat tajam, terdongkrak prospek ekonomi dan obligasi AS

Ketiga indeks utama bangkit kembali dari kerugian pada hari sebelumnya, dengan investor dalam sesi-sesi belakangan ini dihantui oleh kenaikan suku bunga yang mengimbangi optimisme tentang rebound ekonomi.

Microsoft reli 2,15 persen, meningkatkan S&P 500 lebih besar dari saham lainnya, dengan keuntungan di Alphabet, Apple dan Oracle juga mengangkat indeks.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan mencapai tertinggi baru satu tahun 1,626 persen setelah data penggajian non-pertanian meningkat 379.000 pekerjaan bulan lalu, melampaui perkiraan kenaikan 182.000 pekerjaan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Baca juga: Minyak melonjak capai level tertinggi, setelah OPEC+ tahan pasokan

Fokus juga pada rancangan undang-undang bantuan virus corona senilai 1,9 triliun dolar AS ketika Senat AS yang terpecah tajam memulai apa yang diperkirakan menjadi perdebatan panjang mengenai sejumlah amandemen tentang bagaimana uang itu akan dibelanjakan.

Nasdaq mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut setelah lonjakan imbal hasil obligasi baru-baru ini mengurangi permintaan untuk saham-saham teknologi.

Kenaikan suku bunga secara tidak proporsional merugikan perusahaan-perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi karena investor menilai mereka berdasarkan laba yang diharapkan di tahun-tahun mendatang, dan suku bunga yang tinggi merugikan nilai laba masa depan lebih daripada nilai laba yang dibuat dalam jangka pendek.

Baca juga: Harga emas kian terpuruk, berada di bawah 1.700 dolar AS

Nasdaq yang sarat teknologi berada sekitar 8,0 persen di bawah penutupan tertinggi 12 Februari.

Kepala Eksekutif Longbow Asset Management, Jake Dollarhide, di Tulsa, Oklahoma, mengatakan perusahaannya dalam beberapa hari terakhir telah membeli saham di beberapa perusahaan yang sedang berkembang yang harganya telah terpukul dalam aksi jual baru-baru ini.

"Minggu depan, saya memperkirakan volatilitas akan berlanjut, dengan banyak peluang, dengan saham-saham tertentu yang dijual berpotensi rebound," kata Dollarhide.

Baca juga: Rupiah akhir pekan terkoreksi cukup dalam, dibayangi yield obligasi AS

Baca juga: IHSG akhir pekan ditutup di zona merah, tertekan ekspektasi ekonomi AS

Baca juga: Saham Spanyol berakhir di zona merah, Indeks IBEX 35 turun 0,80 persen

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Penutupan perdagangan, ini capaian BEI sepanjang 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar