Artikel

Optimalkan sektor pertanian demi dorong pemulihan ekonomi

Oleh Asmaul Chusna

Optimalkan sektor pertanian demi dorong pemulihan ekonomi

ilustrasi - Buruh tani memasukkan gabah ke dalam karung saat panen di Desa Bringin, Kediri, Jawa Timur, Senin (15/3/2021). Memasuki musim panen raya harga jual gabah kering di tingkat petani turun menjadi Rp3.500 per kilogram atau lebih rendah dari pada harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp4.200 per kilogram. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani.

Yang pertama saya perhatikan betul sektor pertanian
Kediri (ANTARA) - Pandemi COVID-19 kini sudah setahun terjadi. Bukan hanya ditemukan di Indonesia, namun virus tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya.

Pemerintah Indonesia pertama kali mengonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin, 2 Maret 2020. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan secara langsung terdapat dua orang warga Indonesia yang positif COVID-19 yakni seorang perempuan usia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.

Hingga kini, kasus tersebut terus menyebar. Data hingga 26 Maret 2021, terdapat 1,48 juta orang telah terkonfirmasi positif COVID-19. Terdapat 1,31 juta orang telah sembuh dan 40.081 orang telah meninggal dunia.

Di Kabupaten Kediri, hingga Kamis (25/3) terdapat 4.292 orang terkonfirmasi positif COVID-19. Ada 142 orang masih dirawat, 3.737 orang sudah sembuh dan 403 orang telah meninggal dunia.

Akibat penyebaran virus tersebut, melemahkan berbagai sektor termasuk ekonomi. Bukan hanya negara-negara dunia, di daerah pun ekonomi juga melambat.

Setahun sudah pandemi ini berlalu, pemerintah daerah terus berbenah bangkit dari pandemi ini. Contohnya di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Ada beragam cara yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri, demi bangkit dari keterpurukan melemahnya ekonomi setelah satu tahun terjadi pandemi COVID-19.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengakui sektor pertanian cukup mendominasi di wilayah kabupaten ini. Kabupaten Kediri mempunyai luas wilayah 1.386 kilometer persegi atau 138.605 hektare yang terbagi menjadi 26 kecamatan, 343 desa dan satu kelurahan.

Baca juga: Pemkot Kediri sosialisasikan aturan kegiatan ekonomi selama pandemi

Baca juga: Kadin Kediri manfaatkan jaringan bantu produk UMKM tembus pasar ekspor


Terdapat sekitar 1,6 juta warga Kabupaten Kediri, yang 80 persen mata pencahariannya sebagai petani. Untuk itu, sektor pertanian sangat mendominasi selain sektor lainnya. Untuk itu, demi mengatasi keterpurukan, pemda mengoptimalkan sektor pertanian.

"Yang pertama saya perhatikan betul sektor pertanian dulu, karena 80 persen mata pencaharian dari petani," ujarnya di Kediri, Kamis (25/3).

Kabupaten Kediri juga dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Jatim. Beragam tanaman tumbuh subur di Kabupaten Kediri baik padi, jagung, hingga beragam hortikultura. Tak terkecuali cabai, yang juga produk unggulan dari petani kabupaten ini.

Untuk komoditas padi tersebar luas di seluruh kecamatan, seperti Pare, Purwoasri, Kepung, Plosoklaten, hingga Kandangan. Sedangkan cabai banyak tersebar di Kecamatan Pagu, Puncu, Kepung dan beberapa daerah lainnya. Cabai yang ditanam beragam seperti cabai rawit, cabai keriting, serta cabai merah.

Pihaknya mengakui musim juga menentukan kualitas produk hasil pertanian. Misalnya, ketika musim hujan, berpengaruh besar terhadap cabai. Banyak buah yang menjadi busuk sehingga produksinya pun kurang optimal.

Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri secara rutin melakukan pemantauan komoditas cabai. Terlebih lagi saat harga cabai naik drastis. Kini, harganya masih bertahan sekitar Rp100 ribu untuk komoditas cabai rawit.

Dari hasil pemantauan dan dialog yang dilakukan dengan para petani, penyebab harga cabai naik karena produksi yang kurang optimal.

Lahan di Kabupaten Kediri yang ditanami cabai kurang lebih 3.000 hektare pada 2021 ini, namun yang panen hingga Maret 2021 ini masih sekitar 2.000 hektare, sedangkan sisanya belum waktunya panen.

Namun, tanaman yang belum waktunya panen pun ada kendala, yakni daunnya menjadi keriting yang berimbas pada bunga dan buah menjadi kecil. Ini pun juga berpengaruh pada hasil produksi cabai petani yang menjadi turun. Kondisi ini banyak terjadi ketika musim hujan.

Dari hasil evaluasi, diprediksi akhir Maret produksi bisa kembali normal, namun dimungkinkan bisa lebih panjang lagi hingga Mei. Hal itu juga menjadi evaluasi khusus dari Pemerintah Kabupaten Kediri.

Bupati Dhito mengungkapkan melonjaknya harga cabai imbas dari gagal panen. Harga cabai menjadi mahal, karena produksi cabai sedikit, sedangkan kebutuhan banyak.

Persentase untuk gagal panen cabai di Kabupaten Kediri, dari hasil evaluasi yang telah dilakukan bisa mencapai 40 persen. Kondisi ini terjadi di seluruh pertanian cabai wilayah Kabupaten Kediri.

"Kurang lebih 40 persen terjadi di seluruh Kabupaten Kediri. Jadi, untuk bangkitkan ini dengan memastikan tidak terjadi gagal panen di Kabupaten Kediri," kata dia.

Bukan hanya cabai yang salah satu komoditas utama di daerah ini, produksi gabah juga menjadi perhatian dari pemkab. Saat ini sudah memasuki panen raya, sehingga petani pun mulai panen.

Pihaknya mengklaim produksi beras di Kabupaten Kediri selalu surplus. Pada 2020, produksi beras bisa surplus hingga 49 ribu ton. Pada 2021 ini, panen raya sudah di angka sekitar 39 ribu, dari data Dinas Pertanian Kabupaten Kediri.

Dengan jumlah penduduk 1,6 juta jiwa, kebutuhan beras di Kabupaten Kediri di angka 114 ton. Dengan kondisi yang musim panen raya, kini panen sudah di angka 39 ribu ton. Diprediksi sampai akhir April 2021 hingga mencapai 89 ribu ton.

Baca juga: Ekspor produk UMKM, Kadin Kediri teken MoU dengan Berdi Australia

Baca juga: Omset usaha sambal pecel di Kediri naik saat pandemi COVID-19


Dorong UMKM maju

Bagi Bupati Dhito, UMKM juga menjadi salah satu sektor yang penting dalam perekonomian suatu daerah. Untuk itu, guna mendorong pemulihan ekonomi, pemkab juga mendorong UMKM terus bergerak.

Putra dari Seskab Pramono Anung itu mengatakan ingin membuat tempat inkubasi untuk UMKM di Kabupaten Kediri. Dengan itu, UMKM akan terbantu dan mempunyai wadah untuk terus berkembang.

Mereka yang tidak mempunyai ide namun mempunyai dana, maupun mereka yang tidak punya dana tapi punya ide bisa memanfaatkan ruang inkubasi untuk UMKM tersebut.

Sesuai dengan visi misi yang diembannya saat mencalonkan diri menjadi Bupati Kediri, Mas Bup, sapaan akrabnya menegaskan UMKM sangat diperhatikan. Pihaknya bahkan dengan rela menghampiri UMKM di Kabupaten Kediri, memberikan masukan untuk usaha mereka, bahkan memberikan media bagi yang belum ada izin.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan ruang inkubasi untuk UMKM saat ini masih dalam pembahasan. Ruang inkubasi UMKM itu akan dibuat semacam pusat perbelanjaan bagi UMKM. Mereka akan punya wadah sebagai lokasi pemasaran.

Namun, program ini rupanya belum bisa secepatnya direalisasikan. Konsep itu masih harus dibicarakan dengan berbagai satuan kerja terkait. Hingga kini pun, konsep secara matang belum ada titik temu.

Bagi Tutik, akan lebih bijak saat ini memanfaatkan tempat yang sudah ada terlebih dahulu, sebelum ruang inkubasi UMKM itu direalisasikan. Pemkab Kediri punya lokasi sentra industri kreatif di Kecamatan Papar, yang merupakan sarana pusat UMKM lokal dari kabupaten ini serta beberapa binaan pusat oleh-oleh yang cukup besar.

"Bisa edukasi ke tempat yang ada dulu, sambil menunggu konsep yang lebih modern dan bagus," ujar dia.

Bagi dia, tidak ada yang tidak mungkin bahwa UMKM di Kabupaten Kediri akan lebih baik ke depannya. Pemerintah telah memberikan pendampingan optimal, misalnya menyelenggarakan workshop digital marketing pelaku usaha di Kabupaten Kediri.

Selain itu, pihaknya juga secara intensif membantu mendaftarkan mereka dagang secara gratis. Hal ini tentunya juga sangat membantu pemilik UMKM. Jumlah UMKM di kabupaten ini cukup banyak mencapai ratusan ribu yang tersebar di seluruh kecamatan.

Sementara itu, wacana ruang inkubasi bagi UMKM di Kabupaten Kediri mendapat sambutan positif dari Kadin Kabupaten Kediri. Namun, diharapkan semua UMKM bisa difasilitasi, terutama yang baru.

Ruang inkubasi bagi UMKM juga diharapkan bisa mencegah praktik calo. Di beberapa kasus, ternyata masih ada praktik calo yang tentunya merugikan pemilik UMKM. Padahal, mereka berniatan untuk membuat usaha semakin maju, nyatanya harus berhadapan dengan praktik pungutan ilegal.

"Dengan kemajuan kadang rawan penipuan juga, masih banyak calo. Saya juga sering temui di lapangan calo perizinan," ujar Ketua Kadin Kabupaten Kediri Yekti Murih Wiyati yang juga pengusaha ini.

Ia mengakui, pandemi COVID-19, sangat berimbas bagi pemilik UMKM. Mereka yang awalnya banyak fokus di penjualan offline, harus beradaptasi dengan penjualan secara daring.

Konsep ruang inkubasi untuk UMKM Kabupaten Kediri diharapkan turut serta membantu UMKM untuk bangkit kembali, agar lebih berkembang ke depannya setelah terpuruk karena pandemi.

Baca juga: Geliat UMKM di Kediri bangkit saat pandemi COVID-19

Baca juga: Pemkot Kediri gelar pameran UMKM demi bangkitkan ekonomi

 

Oleh Asmaul Chusna
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar