Kupang (ANTARA News) - PT Indonesia Fery Cabang Kupang menghentikan sementara pelayaran antarpulau di Nusa Tenggara Timur menyusul peringatan Stasiun Meteorologi El Tari Kupang yang memperkirakan tinggi gelombang laut di perairan wilayah itu mencapai tiga meter.

"Sudah dua hari ini kami menghentikan sementara pelayaran untuk rute jauh seperti Kupang-Larantuka, Flores Timur, Kupang-sabu Raijua dan Kupang-Ende-Waingapu karena tinggi gelombang di wilayah perairan tidak memungkinkan," kata Manajer Operasional PT Indonesia Fery Cabang Kupang, Arnol Yansen, di Kupang, Sabtu.

Pada Jumat (4/6) misalnya, dua kapal feri yang dijadwalkan berangkat dari Kupang menuju Ende dan Waingapu dan Kupang-Sabu Raijua terpaksa batal karena tingginya gelombang di perairan NTT, katanya.

Dia mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi dan Geofisika untuk mengetahui perkembangan cuaca di wilayah perairan NTT, sebelum memutuskan untuk memberangkatkan armada ke suatu pelabuhan tujuan.

Mengenai pelayaran jarak pendek seperti ke Pulau Rote, dia mengatakan pihaknya juga belum berani karena masih terus berkoordinasi terlebih dahulu dengan BMG karena dalam dua hari terakhir ini, pelayaran Kupang-Rote yang biasanya hanya empat jam, sekarang bisa ditempuh enam-tujuh jam.

"Kita akan berangkatkan armada kalau gelombang di wilayah perairan menuju Rote membaik. Memang dalam beberapa hari terakhir ini, tinggi gelombang berfluktuasi, kadang baik dan kadang tinggi mencapai tiga meter, sehingga kami tetap waspada," katanya.

Stasiun Meteorologi El Tari Kupang memperingatkan tinggi gelombang laut di perairan wilayah NTT mencapai tiga meter selama tiga hari ke depan.

Bahkan di laut Timor dan Arafuru Barat pergerakan gelombang bisa mencapai 3,5 meter sehingga perlu diwaspadai, kata Prakirawan Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Muhammad Syaiful Hadi, SP.

Menurut Syaiful, tinggi gelombang itu dipicu oleh pergerakan kecepatan angin untuk wilayah NTT yang mencapai 10-30 km/jam dan pada waktu-waktu tertentu kecepatannya bisa mencapai 40 km per jam.

Kecepatan angin ini diakibatkan oleh dimulainya pola angin timur yang biasanya dimulai antara April hingga Oktober namun tahun ini sedikit bergeser hingga Juni karena anomali iklim yang terjadi tahun ini, katanya.
(T.B017/A035/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010