Jakarta (ANTARA News) - Begitu sekejap si kulit bundar "ngeloyor" masuk gawang skuad Tiga Singa, penjaga gawang timnas Inggris Robert Green seakan menerima hari penghakiman sebagai biang keladi pembuat blunder.

Bahasa tubuh kiper asal West Ham itu menunjukkan penyesalan mendalam dengan berlutut dan bertelut di depan mistar gawang. Sunyi menerkam, punggawa asuhan Fabio Capello serta merta terdiam.

Sembari mencium rumput hijau, ia seakan mengucapkan kata-kata penyesalan atas kealpaannya dengan tidak berdaya menghalau laju Jabulani.

Hati berbisik, nurani berujar, "ini kesalahanku, ini kesalahanku" atau dalam bahasa Latin, "Mea Culpa, Mea Culpa". Langit pun terbuka menerima penyesalan Green, dengan menyisakan tanya, ada apa dengan Jabulani?

Ini karena momentumnya menyayat hati. Menit keempat, Steven Gerrard menyarangkan bola ke gawang bala tentara The Stars and Stripes, 1-0 untuk Inggris.

Menit 40, Clint Dempsey membungkam kegembiraan pendukung Inggris dengan menceploskan Jabulani ke gawang Green, skor 1-1 sampai peluit panjang ditiup wasit. Penjelasan mudahnya, bola meleset dan melesat karena licin.

Seakan menelan tuah "inilah sepak bola", Jabulani menerima tudingan sebagai terdakwa atas kegagalan timnas Inggris ketika melakoni laga perdana melawan Amerika Serikat. Jabulani menuai hujan kritik kanan-kiri. Mata publik penggila bola sedunia mengerling kepada profil Jabulani.

Empat pelatih angkat bicara bagaikan paduan suara di katedral bola. Pelatih Belanda, Bert van Marwijk, mengatakan timnya piawai mencetak gol dari tendangan bebas. Sayangnya, hal itu musykil terjadi akibat buruknya kualitas bola resmi Piala Dunia 2010 atau Jabulani.

Setali tiga uang, pelatih tim Samba Carlos Dunga melontarkan bogem mentah opini kepada Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke atas performa Jabulani. "Yang perlu ia (Valcke) lakukan hanya bermain. Jika ia bermain ia pasti akan punya pendapat yang berbeda," tegas Dunga.

Dunga terlihat berang. "Orang itu tidak pernah menginjak lapangan, tidak pernah menendang bola, satu-satunya keterampilan yang ia tahu adalah berbicara. Tempatkan dia di lapangan untuk bermain, datang dan berlatih bersama kami dengan bola ini dan setelahnya kita bisa bicara," ujar pelatih yang membawa Brazil meraih gelar di Piala Dunia 1994.

Sejumlah pemain berkomentar negatif atas Jabulani. Penyerang Brazil, Luis Fabiano mengatakan bola itu tampak aneh sementara penjaga gawang Julio Cesar menyebutnya sebagai "mengerikan" lantaran mirip-mirip bola murahan yang banyak dijual di pasar.

Tidak ketinggalan bek Serbia, Nemanja Vidic yang menyebut Jabulani merepotkan pemain di semua posisi. Seharusnya hal itu tak menjadi alasan ketika sebuah tim kebobolan.

"Orang sudah menyatakan pendapat mereka mengenai (Jabulani). Aku sendiri akan mengatakan bahwa bola ini menyulitkan pemain depan dan para bek. Yang bisa kukatakan adalah bahwa hal itu berlaku untuk semua orang," tambahnya.

Bagaimana menyikapi kritisisme seputar Jabulani? Silang pendapat atas Jabulani bukan sebatas menafikan ungkapan "jangan menggigit lidah sendiri", tetapi mengingatkan kepada buah penegasan bahwa supaya kebohongan bisa berhasil, orang harus percaya bahwa yang lain mengatakan apa yang benar.

Toh, para pengkritik Jabulani sudah melontarkan opininya. Jikalau sejumlah orang berbohong, maka orang itu mengikuti aturan bahwa berbohong itu diijinkan. Masalahnya, orang akan berhenti percaya satu sama lain, kemudian tidak ada gunanya berbohong, karena itu "kita jangan berbohong".

Adagium soal berbohong atau tidak-berbohong relatif terwadahi dalam pernyataan perancang Jabulani, Hans-Peter Nuerberg, di Sandton Convention Center. Untuk lebih melegitimasi kewajiban memberi yang terbaik bagi pesta akbar para penggila bola, ia menyertakan testimoni peneliti yang sudah menguji bola itu di Universitas Loughborough, Inggris, Dr Andy Harland PhD, BEng, DIS CEng MIMeche.

"Saya kira para kiper itu hanya mencari apologi atau beralasan. Kami sudah melakukan pengujian dengan teliti. Bola ini sangat stabil dan punya aerodinamis yang natural. Selain itu, permukaan kami buat ada geretan-geretan sehingga tak licin.Kalau ditendang pun bisa sesuai dengan keinginan pemain," kata Hans-Peter Nuerberg kepada wartawan Kompas.Com.

"Kami memerhatikan semua kritik. Kami mencoba menyelesaikan semua persoalan bola. Maka, kalau Anda tanya apa kelemahannya, saya katakan tak ada. Kalau Anda tanya kelebihannya, saya bisa menjelaskan banyak," jelas Hans-Peter percaya diri.

Masalahnya, bukan percaya diri, bohong atau tidak-bohong, melainkan publik tak pernah memperoleh kepastian mengenai akibat dari perancang dan penguji Jabulani. Baik pelatih sejumlah timnas, maupun pemain dan lebih lagi publik bola tidak dapat mengetahui bahwa akibat baiklah yang dihasilkan dari si kulit bundar Jabulani di lapangan hijau.

Bisa jadi, tim yang mendukung keberadaan Jabulani menyatakan, kalaupun akibatnya buruk, maka akibat itu bukan "kesalahan kami. Kami telah melakukan apa yang menjadikan kewajiban".

Dengan kata lain, mereka ini tidak dapat bertanggungjawab atas setiap akibat buruk dari mengatakan kebenaran mengenai kondisi sesungguhnya Jabulani. Masalahnya, dapatkah pihak yang mengkampanyekan Jabulani dengan begitu mudah melepaskan tangggung jawab?

Implikasi praktisnya, kalau pikiran ini terus diarahkan kepada problem, kesalahan, ketidaksempurnaan, maka tiga serangkai inilah yang akan menyandera diri dalam laga kehidupan. Jangan membuat diri sendiri menggigit lidah sendiri, apalagi mempermasalahkan hal-hal kecil.

Dari hari ke hari, latihlah diri untuk tidak mengggit lidah sendiri ketika melihat ketidaksempurnaan kecil, atau melihat selaksa kesalahan. Resepnya, pandailah mengabaikan sesuatu agar merengkuh antusiasme dan semangat hidup. Jabulani, oh jabulani.
(A024/S005)

Pewarta: Oleh A.A. Ariwibowo
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010