Saham Asia diprediksi naik setelah S&P 500, Dow capai rekor tertinggi

Saham Asia diprediksi naik setelah S&P 500, Dow capai rekor tertinggi

Foto dokumen: Seorang pria yang mengenakan masker pelindung, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), berdiri di depan sebuah papan elektronik yang menunjukkan indeks Nikkei di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang 21 Januari 2021. ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon.

New York (ANTARA) - Pasar saham Asia diprediksi naik pada perdagangan Selasa, setelah indeks S&P 500 dan Dow mencatat rekor karena data ekonomi AS yang kuat memicu optimisme bahkan ketika kenaikan yang lebih kecil dari perkiraan dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun meredakan kekhawatiran inflasi.

Sentimen investor didukung oleh survei dari Institute for Supply Management (ISM) pada Senin (5/4/2021) yang menunjukkan aktivitas di industri jasa AS mencapai rekor tertingginya pada Maret. Data tersebut muncul setelah laporan pekerjaan pada Jumat (2/4/2021) mengalahkan perkiraan dengan 916.000 pekerjaan ditambahkan ke ekonomi AS bulan lalu.

“Laporan pekerjaan mengatur panggung untuk apa yang kita lihat hari ini,” kata Thomas Hayes, ketua Great Hill Capital LLC di New York. “Laporan tersebut tidak hanya menghancurkan ekspektasi tetapi juga menunjukkan bahwa inflasi upah terkendali karena orang-orang bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja.”

Kontrak berjangka S&P/ASX 200 Australia naik 0,34 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka Hang Seng Hong Kong naik 0,40 persen.

S&P 500 dan Dow - tolok ukur indeks Wall Street - telah menguat dalam beberapa sesi terakhir karena vaksinasi yang meluas dan stimulus pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya meningkatkan kepercayaan investor dalam rebound ekonomi dan mendorong permintaan untuk sektor-sektor, termasuk energi, keuangan dan material, yang menjadi primadona keuntungan dari pembukaan kembali ekonomi.


Baca juga: Pasar saham Asia diprediksi naik tipis


Pada Senin (5/4/2021), kenaikan dipimpin oleh sektor-sektor yang berkinerja buruk baru-baru ini, termasuk layanan komunikasi, consumer discretionary, dan teknologi, karena imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun tetap di bawah level tertinggi 14-bulan yang dicapai minggu lalu.

"Tingkat perubahan imbal hasil 10-tahun telah melambat dan itu telah menciptakan landasan bagi beberapa sektor tertinggal dalam beberapa pekan terakhir seperti teknologi dan area sensitif hasil lainnya seperti utilitas," kata Hayes.

Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average naik 1,13 persen ke rekor tertinggi 33.527,19 poin, S&P 500 naik 1,44 persen ke rekor 4.077,91 poin dan Komposit Nasdaq naik 1,67 persen menjadi 13.705,59 poin.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tipis pada Senin (5/4/2021), karena investor menghentikan penjualan obligasi pemerintah baru-baru ini dan mengambil untung dari posisi jangka pendek, meskipun tren naik suku bunga tetap utuh setelah laporan pekerjaan yang kuat pada Jumat (2/4/2021).


Baca juga: Saham Asia diperkirakan naik, fokus bergeser ke PMI China, imbal hasil


Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun terakhir 1,7127 persen, turun dari 1,72 persen pada akhir Jumat (2/4/2021). Kurva imbal hasil menanjak pada Senin (5/4/2021), setelah mendatar sesi sebelumnya karena selisih antara imbal hasil AS 2-tahun dan 10-tahun naik menjadi 154 basis poin.

Harga emas sedikit berubah di tengah kenaikan harga ekuitas global. Spot emas turun 0,1 persen menjadi 1,727,98 dolar AS per ounce. Emas berjangka AS menetap sedikit lebih tinggi di 1.728,80 dolar AS.

Harga minyak turun karena peningkatan pasokan OPEC+ dan peningkatan produksi Iran, bersama dengan ancaman gelombang baru infeksi COVID-19, mengimbangi harapan untuk rebound permintaan yang didorong oleh kebangkitan ekonomi.

Minyak mentah AS menetap di 58,65 dolar AS per barel, anjlok 4,6 persen, sementara Brent merosot 4,18 persen menjadi berakhir pada 62,15 dolar AS per barel.


Baca juga: Saham Asia bakal naik, kekhawatiran kegagalan "hedge fund" berkurang

Baca juga: Saham Asia akan beragam, tertekan berita ekonomi AS dan lockdown Eropa

Baca juga: Pasar saham Asia bakal tertekan setelah Wall Street dan minyak jatuh

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ada stimulus bagi investor untuk gairahkan pasar modal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar