Artikel

Menakar upaya negara memutus gerakan terorisme secara sistematis

Oleh M Darwin Fatir

Menakar upaya negara memutus gerakan terorisme secara sistematis

Sejumlah jurnalis mengambil gambar pengamanan jelang pelaksanaan Misa Malam Paskah di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir.

Makassar (ANTARA) - Kota Makassar, di Provinsi Sulawesi Selatan, kembali menjadi perhatian publik, setelah tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri bersama tim Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel melakukan eksekusi dengan menembak mati terduga teroris berinisial MT.

Upaya tersebut merupakan respons atas pengembangan serta pengungkapan sel-sel jaringan terorisme secara sistematis yang masih aktif, serta dukungan negara atas pemberantasan gerakan radikalisasi yang memengaruhi psikologis masyarakat.

Terduga ditembak aparat di rumah kontarakannya, jalan Manuruki 3, RT/RW 001/002, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, pada Kamis 15 April 2021, sekitar pukul 11.30 WITA, bertepatan hari kedua ramadhan 1442 hijirah.

Rumah panggung, berdinding seng berwarna biru berukuran 10x8 meter persegi, dipagari ban bekas, dihiasi kandang ayam, tempat tinggal terduga menjadi saksi bisu saat eksekusi tersebut. Kini rumah itu dipasangi garis polisi.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan mengemukakan, terduga ditembak karena di tangannya memegang parang dan menyerang secara membabi buta hingga membahayakan keselamatan petugas.

Petugas pun sudah berupaya presuasif memberikan tembakan peringatan, tapi tidak diindahkan, malah terus menyerang, sehingga tindakan tegas, terukur oleh Tim Densus 88 untuk melumpuhkannya .

"Bersangkutan meninggal dunia. Sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Berinisial MT, jenis kelamin laki-laki, kelahiran 1972 (usia 49 tahun)," sebutnya.

Perwira menengah Polri ini mengungkapkan, terduga merupakan kelompok yang sama dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan Islamic State alias ISIS bermarkas di Villa Mutiara Biru, Kecamatan Biringkanaya.

Lokasi tersebut pernah digerebek Densus 88 Anti Teror bersama tim Polda Sulsel, pada 6 Januari 2021 . Dua orang di antaranya tewas tertembak masing-masing berinisial MR dan SA. Sementara 20 orang pengikutnya menyerah kemudian diamankan petugas.

MT adalah mantan Narapidana Teroris (Napiter) dengan kasus penyerang teror bom pipa kepada Gubernur Syahrul Yasin Limpo, kala itu melaksanakan kampanye politik pilkada di Monumen Mandala Makassar pada November 2012.

Dia ditahan di Lapas Gunungsari Makassar divonis tiga tahun penjara. Setelah bebas pada 2016, kata Zulpan, terpantau bergabung dengan kelompok MR (Mohammad Rozaldi).

MT juga terdeteksi sebagai instruktur penembak dengan rutin melatih anggotanya pada salah satu lokasi di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Namun, kini beberapa anggotanya sudah diamankan.

"Bersangkutan merupakan kelompok yang sama dengan jaringan Villa Mutiara Biru juga berkaitan bom Gereja Katedral Makassar," beber Zulpan saat ditemui di kantornya, Jumat.

Baca juga: Densus 88 sudah amankan 32 terduga teroris di Sulsel

Selain eksekusi, sejumlah barang bukti di rumah itu dibawa petugas seperti, lima ponsel pintar, 10 senjata tajam, jenis golok, tujuh buku terkait jihad, dan satu artikel juga terkait jihad serta empat replika senjata api diamankan, satu menyerupai jenis AK-47.

Sedangkan tiga orang yang turut dibawa serta saat penggerebekan hari itu, yakni istri, anak dan menantunya, hanya dimintai keterangan. Sebab, mereka tidak punya kaitan dengan teror bom Gereja Katedral, berbeda dengan terduga.

Jenazah MT sebelumnya dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara usai penembakan untuk keperluan pemeriksaan sudah diserahkan kepada pihak keluarga.

"Sudah diberikan kembali kepada keluarga, diterima kakak kandung bersangkutan dan di makamkan di pekuburan Sudiang," katanya.

Mengenai dengan perkembangan kasus jaringan teroris pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral pada Minggu, 28 Maret 2021, sebut perwira menengah Polri itu terus bertambah.

"Jadi sampai hari ini 32 orang telah ditangkap dan diamankan. Sekarang menjalani pemeriksaan intensif oleh tim Densus dibantu tim Polda Sulsel. Mereka saat ini berada di kantor, statusnya masih terperiksa. Ada 30 pria dan dua wanita," sebut dia.
 
Anna Lapo (kiri) dan Mince Alce (kanan) warga setempat memberikan kesaksian seusai penggerbekan dengan berakhir penembakan terduga teroris berinisial MT, di rumahnya Jalan Manuriki 3, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (15/4/2021). ANTARA/Darwin Fatir.



Kesaksian warga saat penggrebekan
Sejumlah warga sekitar dilarang mendekat di TKP. Bahkan suasana di sekitar pemukiman itu juga terlihat lengang, tidak ada aktifivitas seolah tidak terjadi apa-apa. Masyarakat sekitar juga tidak peduli, mengingat keluarga terduga tertutup, tidak bersosialisasi.

Juliati, salah seorang warga setempat sempat mendengar ada suara letusan, pikirnya itu hanya petasan. Setelah itu keluar dari rumahnya berjarak 10 meter dari TKP, tapi sudah banyak orang di rumah itu, sepertinya petugas.

"Saya disuruh menjauh dengan kode tangan. Banyak orang di situ, ada juga memakai penutup wajah hanya mulut dan mata kelihatan, berpakaian preman, kelihatannya polisi," katanya.

Warga lainnya, Mince Alce, yang berdampingan dengan rumah terduga menuturkan, saat kejadian sempat mengintip dari dapur rumahnya karena penasaran ada keributan di sebelah.

"Ada orang diikat tangannya, banyak orang pakai penutup wajah, ribut sekali. Sempat saya lihat dia (MT) naik ke loteng rumahnya, lalu dikejar, lalu saya berteriak karena panik langsung keluar rumah," katanya.

Sementara, Anna Lapo juga bercerita, mendengar suara anak menangis malam itu sebelum penggerebekan. Selama ini, memang keluarga mereka tertutup dan tidak bertetangga, bahkan sering cekcok dengan warga. Rumah itu kadang ramai saat malam Jumat, siang tidak ada aktifitas.

Baca juga: Kapolri: 13 terduga teroris bom Makassar ditangkap di tiga wilayah

Penangkapan terduga teroris di Sulsel
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, memastikan serangan bom di Gereja Katedral oleh pelaku teror adalah bagian dari kelompok JAD dari Villa Mutiara Biru. Sejumlah terduganya masuk dalam jaringan itu sudah diamankan.

"Mereka bagian dari itu, dari inisial dan data-datanya sudah kita pastikan sesuai. Jadi, kegiatan mereka terjadi saat ini, kita ketahui adalah ledakan menggunakan bom jenis bom panci," paparnya kepada awak media didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat meninjau gereja setempat di Makassar.

Mengenai pengembangannya, kata Sigit, terus dilakukan, bahkan ia memerintahkan begitu mengetahui perencanaan kegiatan (serangan teror), langsung segera laksanakan eksekusi.

Data terbaru dirilis Mabes Polri, setelah pengembangan tercatat sebanyak 32 orang telah diamankan di wilayah Kota Makassar dan sekitarnya. Para terduga ini berstatus terperiksa karena masih memiliki keterkaitan jaringan aksi bom bunuh diri pasangan suami istri, L dan YSF di gereja itu

"Perkembangan terakhir, ditangkap lagi tujuh orang, satu di antaranya berinisial MY sebagai perancang serangan Gereja Katerdal. Ia termasuk yang 32 orang itu," sebut Kepala Bagian Penerangan Umum Devisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan di Jakarta, Kamis.

Peran MY diketahui sebagai perencana dari kelompok dari Villa Mutiara Biru serta ikut berafiliasi dengan kelompok JAD bagian dari ISIS. Sehingga ada dua kelompok yang melakukan aksi teror di Makassar.

Tim Densus 88 Anti Teror Polri pun telah menyisir lokasi persembunyian para terduga teroris di beberapa titik, seperti di jalan Tinumbu, Kecamatan Tallo, tempat tinggal L dan YSF, serta di wilayah Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya. Sedangkan lainnya ditangkap pada sejumlah kabupaten di Sulsel.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (tengah) bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kanan) Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman (dua kanan) dan Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam (dua kiri) memberikan keterangan pers di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). ANTARA/Darwin Fatir.



Upaya menangkal terorisme dengan deradikalisasi
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menyampaikan pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin memutus pergerakan paham radikalisme, dengan deradikalisasi.

Deradikalisasi dimaksud adalah program bertujuan menetralkan pemikiran bagi yang sudah terpapar paham radikalisme, termasuk menyasar para teroris baik yang di dalam Lapas maupun di luar, agar bisa kembali menjadi masyarakat normal.

BNPT juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar dan Pemeritah Provinsi Sulsel serta merangkul organisasi kepemudaan, organisasi keagaamaan seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama dan kepemudaan, agar bersama-sama memutus penyebaran paham radikalisme.

"Jangan lagi ada anak muda kita harus terjebak dalam pemikiran yang mengarah pada radikal terorisme. Jadi, ini adalah pengaruh dari propaganda jaringan teroris Internasional (ISIS), mempengaruhi dari sebagian anak muda kita,"paparnya usai silaturahmi bersama ormas lintas agama di Makassar.

Terkait pencegahan penyebaran paham radikal secara digital, melalui sosial media, kata dia, melalui kotra radikalisasi dan kontra narasi. Jadi kontra narasi, bersama seluruh masyarakat.

"Artinya, bukan hanya BNPT, tapi masyarakat pun didorong melakukan konta narasi, tapi bagaimana kita melakukan literasi digital, edukasi kepada warga netizen," papar mantan Kapolda Papua itu.

Secara terpisah, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam kunjungan keduanya memantau pengamanan malam Jumat Agung rangkaian Hari Paskah di Gereja Katedral Makassar, sepekan setelah teror bom tersebut menegaskan, TNI bersama Polri siap menumpas terorisme.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara ini menekankan, untuk mencegah penyebaran ajaran radikalisasi yang mengarah ke tindakan terorisme, segera difungsikan Posko Komando Taktis (Poskotis) sebagai salah satu upaya antisipasi memutus gerakan teroris.

"Kita bikin Poskotis, Posko Komando Taktis gabungan TNI dan Polri. Hampir setiap provinsi ada, empat sampai enam (Poskotis), termasuk penguatan intelejen dalam pengumpulan informasi pergerakan terorisme," tegas Panglima.

Hal senada disampaikan Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto. Pihaknya siap membantu dalam penangulangan terorisme. Ia mengatakan, setiap teroris pasti punya rumah, keluarga dan RT/RW, sehingga pengawasan ditingkatkan mulai dari situ.

"Kami punya progam pembinaan dari anak sampai dia remaja, ada jagai anak ta', smart milenial, sosial mitigasi, mencegah jangan sampai terlantar. Artinya, terpapar secara fisik dan pikiran," kata pria akrab disapa Danny Pomanto itu.

"Setiap anak-anak itu, maupun teroris punya agama, maka pendekatan kita lewat penguatan keimanan umat. Jadi ada pendekatan. Tentunya, kami juga meminta bimbingan dari BNPT, supaya koneksi semua ini," tambah Danny.

Ketua FKUB Sulsel Prof Rahim Yunus pada kesempatan lain berharap, aparat kemananan dan semua pihak berjibaku, bahu membahu menangkal gerakan radikalisasi agar kejadian serupa tidak berulang. Penguatan nilai keagamaan serta ideologi kebangsaan harus diperkuat.

"Kami dari FKUB memiliki beragam program untuk mencegah hadirnya orang-orang berniat seperti itu (paham radikal), tentu kita mengambil langkah-langkah pencegahannya," katanya menambahkan.
 
Suasana penjagaan saat penggeledahan tim Densus 88 Anti Teror di rumah pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral di jalan Tinumbu, Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir.


Dukungan anggaran pemberantasan terorisme
Penanganan terorisme tentunya memerlukan anggaran tidak sedikit. Tahun 2020 BNPT memiliki anggaran sebesar Rp516 miliar. Tahun ini, 2021 sebesar Rp515 miliar, lalu mengajukan penambahan sebesar Rp304,7 miliar ke dewan. DPR RI pun siap memberikan dukungan.

"Saya meminta kepada Polri dan BNPT sebagai mitra kami untuk memperkuat fungsi intelijen dalam mendeteksi kejadian serupa di kemudian hari. Kejar dan tangkap pelaku teror ini hingga akarnya," kata Ketua Komisi III DPR Herman Hery, di Jakarta.

Anggota Komisi III DPR I Wayan Sudirta menambahkan, Presiden Joko Widodo telah berkomitmen memberantas terorisme dan menegaskan aksi teroris tidak ada kaitan dengan agama manapun, sehingga jaringannya harus dihentikan.

Sebelumnya, sebanyak 34 narapidana tindak pidana terorisme mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor.

Pengucapan sumpah setia kepada NKRI merupakan salah syarat bagi narapidana tindak pidana terorisme apabila dikemudian hari mengajukan pembebasan bersyarat, menjelang bebas dan program lainnya.

Baca juga: Panglima TNI : Bangun Poskotis cegah gerakan teroris

Oleh M Darwin Fatir
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Upaya negara selamatkan ekonomi Indonesia di tengah pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar