Bengkayang (ANTARA News) - Pemkab Bengkayang, Kalimantan Barat, khawatir lantaran kerajinan khas daerah itu, Biday, sewaktu-waktu bisa diklaim oleh Malaysia yang sudah mulai memodifikasi produk buatan tangan itu.

Biday merupakan kerajinan tangan asli Dayak yang terbuat dari rotan dengan produk akhir tikar, tas, dan lainnya yang oleh masyarakat setempat dipasarkan ke Serikin, Malaysia dengan harga Rp150 ribu hingga Rp600 ribu tergantung motifnya.

Masyarakat setempat memilih menjualnya ke Serikin karena jaraknya yang dekat karena berbatasan dengan Kecamatan Jagoi Babang.

Biday sederhana yang dibuat masyarakat Dayak kemudian oleh Malaysia ditingkatkan kualitasnya dan dipasarkan kembali ke pihak ketiga, itulah yang melatarbelakangi munculnya kekhawatiran klaim oleh Malaysia.

Wakil Bupati Bengkayang Suryadman Gidot mengatakan, dengan kemajuan teknologi yang dimiliki Malaysia, maka kerajinan asli dari masyarakat Kabupaten Bengkayang tersebut dikembangkan. "Kerajnan Biday itu hanya ada di Seluas, Jagoi, dan Siding. Ini adalah aset daerah kita," kata Gidot

Dia mengatakan sudah menjadi rahasia umum, kalau kerajinan Biday yang masuk ke Malaysia itu dimodifikasi dan dijual kembali. Padahal, kata Gidot, barang tersebut berasal dari Jagoi Babang.

Menurut Gidot, pihaknya sudah meminta kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkayang agar berkoordinasi dengan Disperindag Provinsi Kalbar terkait masalah ini.

Pemkab Bengkayang juga terus berupaya melakukan pembinaan melalui Disperindag Kabupaten Bengkayang. Salah satunya memberikan perhatian dengan para pengrajin. Misalnya dengan sisi permodalan melalui perbankan.

Lebih jauh ia menyatakan tidak ingin kerajinan Biday aset daerah hanya tinggal cerita saja.

(ANT-169/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010