Padang (ANTARA News) - Undang-undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengamanatkan pendidikan dan pelatihan meteorologi, klimatologi dan geofisika masuk kurikulum, sehingga peserta didik sejak dini memahami kebencanaan.

"Yang rentan dalam proses resiko bencana alam adalah anak-anak, mereka akan dewasa sehingga perlu dibentuk kesadaran akan kebencanaan dimulai sejak dini sehingga bisa membantu penyelamatan," kata Sekretaris Utama BMKG Pusat Dr. Andi Eka Sakya usai sosialisasi UU tentang BMKG, di Padang, Kamis.

Dalam pasal 81 UU 31/2009 mengamanatkan, Badan wajib menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Pendidikan dan pelatihan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 huruf c ditegaskan pada pasal 84 yang dilaksanakan berdasarkan: point a), kebutuhan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik.

Point b), standar kurikulum dan silabus serta metoda pendidikan dan pelatihan. c), standar tata kelola organisasi lembaga pendidikan dan pelatihan. dan d), tingkat perkembangan teknologi sarana dan prasarana belajar mengajar.

Justru itu, kata Andi, dalam pembuatan Rancangan Peraturan Pemerintah (PP) dari UU 31/2009 akan dimasukkan penekanan-penekanan ke meteorologi, klimatologi dan geofisika serta kebencanaan masuk kurikulum.

Selain itu juga terhadap penekanan peran pemerintah daerah dan masyarakat karena masalah bencana bukan saja rusan pemerintah.

Menurut dia, sangat diperlukan pendidikan MKG masuk kurikulum sesuai amanat UU 31/2009 sehingga terbangun kesadaran dan semakin mengenal dan mengetahui fenomena alam, baik perubahan iklim, cuaca dan potensi bencana lainnya.

Terkait, untuk mengurangi resiko bencana, pertama harus ada kesadaran masyarakat sendiri yang tentu harus dibangun sejak dini.

"Di Jepang membangun kesadaran masyarakatnya akan bencana sudah dimulainya sejak taman kanak-kanak, bahkan pelatihannya digelar sekali dalam tiga bulan," katanya.

Menurut Andi lagi, kalau sudah setiap orang bisa memberi kontribusi dalam pengurangan resiko bencana, tentu dampak yang akan ditimbulkan semakin kecil.

Benar, Indonesia yang membentang di garis khatulistiwa dikarunia kekayaan alam yang luar biasa, tapi potensi bahaya bencana juga cukup tinggi.

Justru itu, perlunya pengenalan pendidikan meteorologi, klimatologi dan geofisika terhadap anak didik dan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik.

Terkait, di Jepang guncangan gempa bisa terjadi tiga kali dalam sehari, tapi kesadaran masyarakatnya makin tinggi, teknologi dan konstruksi bangunannya semakin bagus.

Sistem yang demikian, tentu tidak salahnya untuk dicontoh bagi Indonesia yang memiliki potensi bencana iklim, cuaca dan gempa bumi serta lainnya.

"Dengan banyak potensi bencana di Indonesia, tentu harus dipikirkan apa yang bisa diperbuat dari kenyataan alam yang ada," katanya.(*)
(T.KR-SA/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010