Teknologi Selandia Baru siap dukung operasi manufaktur mamin Indonesia

Teknologi Selandia Baru siap dukung operasi manufaktur mamin Indonesia

Ilustrasi manufatkur minuman kemasan (Pexel)

Jakarta (ANTARA) - Teknologi pintar Selandia Baru siap mendukung operasi manufaktur perusahaan makanan dan minuman (mamin) di Indonesia, demikian Diana Permana, Komisaris Perdagangan Selandia Baru untuk Indonesia dalam webinar "Industry 4.0: How smart plant technologies support efficiency, safety and competitiveness of F&B manufacturing for the global stage" yang diselenggarakan oleh New Zealand Trade & Enterprise (NZTE) beberapa waktu lalu.

"Selandia Baru telah memanfaatkan perpaduan teknologi yang menggabungkan aspek fisik, digital, maupun kombinasi antara kedua aspek tersebut. Badan pemerintah dan perusahaan asing di Selandia Baru menyediakan peluang untuk mendukung manufaktur mamin Indonesia menerapkan teknologi pintar yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta keselamatan operasional pabrik," kata Diana dalam siaran pers pada Kamis.

Teknologi pintar yang dimaksud antara lain teknologi sistem keamanan tinggi yang dapat membantu mengelola keselamatan dengan mengurangi kontak antar sesama manusia, sistem pendingin udara yang fleksibel, rekayasa industri virtual yang mempermudah analisa data dan pengambilan keputusan, dan teknologi virtual untuk K3L (Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Lingkungan).

Baca juga: PPKM mikro, industri mamin sebut pemerintah akan beri subsidi ongkir

Baca juga: IKM makanan butuh pasokan bahan baku hadapi dampak COVID-19


Keterbukaan terhadap teknologi yang lebih maju oleh perusahaan asing akan membangkitkan dan meningkatkan daya saing global industri manufaktur mamin Indonesia.

Hal ini secara signifikan mendukung peningkatan efisiensi dan keselamatan pada bidang operasi pabrik, yang mana Selandia Baru unggul dalam menerapkan teknologi pabrik pintar. Operasional pabrik, sebagai salah satu dari lima pilar utama yang diukur oleh Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), secara langsung mendukung keseluruhan sistem manufaktur bersamaan dengan empat pilar INDI 4.0 lainnya, yaitu manajemen dan organisasi, sumber daya manusia dan budaya, produk dan layanan, dan teknologi.

Pertumbuhan industri mamin mengalami penurunan dari 7,8 persen pada tahun 2019 menjadi 1,5 persen pada tahun 2020 akibat adanya gangguan dari pandemi COVID-19.

Hal ini dikarenakan masih banyaknya manufaktur mamin Indonesia yang beroperasi secara manual dengan kendali manusia secara penuh.

Dengan adanya pandemi COVID-19, kegiatan operasional yang lebih aman menjadi semakin penting dan diperkirakan akan terus berlaku ke depannya.

Teknologi tidak hanya mengoptimalkan peran manusia, tetapi juga memungkinkan perusahaan untuk mengelola risiko di bidang operasional.

Travis Lee, Manajer Business Development Asia Tenggara dari Gallagher Security, perusahaan sistem keamanan dari Selandia Baru, menjelaskan, “pandemi telah mengembangkan bagaimana cara mengukur keselamatan praktik bisnis dengan kebijakan prosedur yang lebih ketat untuk mengelola risiko dari segi keamanan dan kesehatan.”

Mengadopsi teknologi berbasis smart security dapat mendukung pabrik untuk mencegah dan memitigasi potensi resiko dari kontaminasi manusia, dimulai dengan penyaringan di pintu masuk, mengelola pergerakan manusia, mengelola kapasitas ruangan, hingga pelacakan kontak (contact tracing) – semua dikelola melalui system berbasis aplikasi.”

Travis juga menambahkan, “Sistem keamanan berbasis teknologi mempercepat proses pencegahan dan penanganan ketika resiko terjadi, salah satu contohnya adalah aplikasi proximity contact tracing yang mempercepat pelacakan kasus COVID-19 di lapangan dibandingkan dengan pelacakan manual yang memakan waktu.

Sistem keamanan berbasis teknologi pintar Gallagher Security juga memungkinkan solusi minim kontak yang efisien diantaranya Mobile Credential, Face Detection, Temperature Screening, dan sebagainya, yang mana dapat menghemat waktu proses administrasi, biaya tes kesehatan, dan kerugian atas hilangnya waktu operasi jika terjadi kontaminasi dan resiko.”

Dalam hal mencapai efisiensi energi melalui teknologi pintar, operasional pabrik di Indonesia juga sebaiknya menerapkan sistem pendingin udara dengan sistem lebih fleksibel (high flexibility air conditioning system), daripada menggunakan sistem pendingin terpusat yang digunakan saat ini.

AC pada masing masing area dapat dinyalakan atau dimatikan bila diperlukan, sehingga unit AC hanya dinyalakan di ruangan aktif yang ditempati. Biaya listrik didasarkan pada penggunaan yang sebenarnya yang sesuai dengan waktu operasi pabrik dan jam kerja shift yang berbeda-beda.

NZTE menjembatani kemitraan antara perusahaan Indonesia dengan ahli dari Selandia Baru. “Agar pengoperasian teknologi pintar di sebuah pabrik dapat dilaksanakan secara maksimal, pemberian pelatihan pekerja pabrik dengan keterampilan Industri 4.0 diperlukan adalah bagian dari program ini. Selanjutnya kami dapat memastikan perusahaan manufaktur lokal akan menerima dukungan dari ahli teknologi Selandia Baru untuk tercapainya proses yang aman dan efisien,” tutup Diana. 

Baca juga: Kemenperin dorong industri makanan kembangkan produk dan teknologi

Baca juga: Kemenperin pacu industri makanan dan minuman terapkan teknologi 4.0

Baca juga: Industri mamin kontributor terbesar PDB manufaktur

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar