Masih ada beberapa dorongan dan tarikan, apakah pasar percaya inflasi bersifat sementara atau sesuatu yang akan bertahan
New York (ANTARA) - Wall Street lebih rendah pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena kekhawatiran inflasi mendorong investor menjauh dari saham-saham pertumbuhan (growth stocks) yang memimpin pasar beralih ke saham-saham siklikal, yang paling diuntungkan saat ekonomi dibuka kembali.

Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 34,94 poin atau 0,10 persen, menjadi menetap di 34.742,82 poin. Indeks S&P 500 terpangkas 44,17 poin atau 1,04 persen, menjadi berakhir di 4.188,43 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup anjlok 350,38 poin atau 2,55 persen, menjadi 13.401,86 poin.

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor teknologi merosot 2,53 persen, memimpin kerugian. Sementara itu sektor utilitas terdongkrak 1,02 persen, menjadikannya kelompok dengan kinerja terbaik.

Saham industri dan perawatan kesehatan membatasi penurunan Indeks Dow Jones tetapi saham-saham unggulan tersebut berbalik arah di akhir sesi, menghentikan rekor penutupan tertinggi tiga hari berturut-turut.

Baca juga: Dolar dekati terendah 10 minggu, dipicu ekspektasi inflasi meroket

"Kepemimpinan pasar tidak melakukan semuanya dengan baik tahun ini," kata Manajer Portofolio Kingsview Asset Management, Paul Nolte, di Chicago. “Ada rotasi umum dari (saham) pertumbuhan ke bagian lain pasar.”

Kebangkitan permintaan bertabrakan dengan pasokan material dasar yang terbatas, membantu memicu kekhawatiran inflasi.

“Setelah jalur suplai dibangun kembali, ini akan hilang. Tapi itu akan memakan waktu," tambah Nolte. Ini berbeda dengan menyalakan sakelar lampu.

Tingkat impas pada Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) lima tahun dan 10 tahun masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 2011 dan 2013.

“Masih ada beberapa dorongan dan tarikan, apakah pasar percaya inflasi bersifat sementara atau sesuatu yang akan bertahan,” kata Nolte.

Baca juga: Harga minyak naik tipis, pedagang pantau penutupan pipa bahan bakar AS

Kekhawatiran inflasi akan menjadi perhatian investor ketika Departemen Tenaga Kerja merilis laporan IHK terbaru pada Rabu (12/5/2021).

Penutupan untuk menghentikan serangan ransomware di Colonial Pipeline, pengelola jaringan pipa minyak utama AS memasuki hari keempat, membuat jaringan terpincang-pincang yang mengangkut hampir setengah dari pasokan bahan bakar ke wilayah timur.

Musim pelaporan keuangan kuartal pertama telah memasuki bagian terakhir, dengan 439 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan pada Jumat (7/5/2021). Dari jumlah tersebut, 87 persen telah melampaui ekspektasi konsensus, menurut Refinitiv IBES.

Baca juga: Harga emas naik lagi 6,3 dolar, reli untuk 4 hari beruntun

Analis sekarang melihat pertumbuhan laba S&P tahun-ke-tahun sebesar 50,4 persen secara agregat, lebih dari dua kali lipat perkiraan awal April dan secara signifikan lebih baik daripada perkiraan pertumbuhan kuartal pertama 16 persen pada 1 Januari, menurut Refinitiv

Operator hotel Marriott International Inc gagal memenuhi ekspektasi laba dan pendapatan kuartalan karena pemesanan AS yang lemah mengimbangi rebound di China. Saingannya, Wynn Resorts Ltd, diperkirakan akan melaporkannya setelah bel penutupan.

Saham kendaraan listrik mengerem dengan Tesla Inc dan Fisker Inc melemah setelah Workhorse Group gagal mencapai ekspektasi pendapatan kuartalan.

FireEye maju setelah sumber industri mengidentifikasi perusahaan keamanan siber sebagai di antara mereka yang membantu Colonial Pipeline pulih dari serangan siber baru-baru ini.

Baca juga: Kemarin, IHSG menguat hingga perpanjangan PPKM Mikro

Baca juga: Saham Spanyol ditutup untung, Indeks IBEX 35 terangkat 0,94 persen

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2021