Kupang (ANTARA News) - Gempa berkekuatan 4,6 pada skala richter mengguncang Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Minggu, sekitar pukul 20.50 Wita.

Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang Jhonly, di Kupang, Minggu malam mengatakan, gempa pada kedalaman sekitar 10 km itu, diperkirakan berpusat di 123 km bagian timur laut Kota Kupang.

Getaran gempa berkekuatan 4,6 skala richter (SR) dirasakan sebagian warga Kota Kefamenanu, sehingga berhamburan keluar rumah.

Ia mengatakan, hingga pukul 21.30 Wita, belum ada laporan terkait kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa itu dan diperkirakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dia mengatakan, dua hari sebelumnya, gempa juga terjadi dengan pusat gempa berada pada 317 kilometer barat laut Saumlaki, Provinsi Maluku. Meskipun lokasi gempa jauh di Maluku Tenggara, namun getarannya dirasakannya juga warga di Kefamenanu.

Wakil Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Fernandes yang dihubungi ANTARA dari Kupang Minggu malam, membenarkan adanya getaran gempa tersebut, membuat warga panik dan berlarian keluar rumah.

Dia mengatakan, Kota Kefamenanu khususnya dan Kabupaten Timor Tengah Utara letaknya berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng EuroAsia, Pacific dan Australia sehingga rawan terjadi gempa.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, secara nasional, pertemuan lempengan bumi di Indonesia seperti Pulau Sumatera dan Jawa sering menimbulkan gempa tektonik berkekuatan besar sehingga tidak jarang menimbulkan korban jiwa dan harta benda.

Misalnya pertemuan lempeng Hindia dengan lempeng Euroasia di wilayah Indonesia terdapat di kawasan barat Pulau Sumatera dan jalurnya menuju Selatan Pulau Jawa hingga masuk laut Banda dan bertemu lempeng pasifik.

Jalur lempengan bumi ini terus bergerak ke selatan Pulau Jawa kemudian berputar ke Laut Banda, bertemu lempeng Pasifik dan bergerak ke Pulau Seram bagian utara sampai ke Ternate, Provinsi Maluku Utara dan bertemu lempeng Filipina dan Autralia.

Perbatasan pertemuan lempengan bumi dari tiga komponen yang saling mengunci itu terjadi di laut Banda.

Karena saling mengunci, maka seringkali di situ terjadi gempa-gempa tektonik tetapi jaraknya sangat dalam di bawah laut, namun tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu bisa terjadi gempa dangkal.

Hingga saat ini para ahli di Indonesia atau di dunia sekalipun belum dapat memprediksi atau memastikan waktu kapan akan terjadi gempa bumi, seperti di Dili dan Kefamenanu, malam ini.(*)
(ANT-084/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010