Jakarta (ANTARA News) - Pengamat politik dari Centre for Strategic of International Studies (CSIS) J Kristiadi mengatakan pasca-Orde Baru partai-partai politik berbasis agama telah meninggalkan simbol-simbol agama.

"Hal ini dilakukan untuk meraih suara dalam pemilihan umum. Saat ini, agar mendapat dukungan dari masyarakat, semua partai harus mau jalan ke tengah. Partai yang mau jadi besar harus bisa merangkul dan menyatakan partai ini milik semua," katanya pada diskusi "Preferensi Agama dalam Perilaku Politik Pemilih di Indonesia" di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan hilangnya simbol-simbol agama dalam parpol setelah bangsa Indonesia belajar dari Orde Baru karena selama Orde Baru agama Islam direndahkan hanya sebagai instrumen politik.

"Kampanye dulu perang ayat. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cari ayat untuk membenarkan milih PPP, Golkar juga punya ayat lain. Saya kira itu merendahkan agama," katanya.

Menurut dia, saat ini parpol yang pada dasarnya Islam, tetapi sudah bisa merangkul keseluruhan dan partai Islam pun tidak memakai simbol-simbol Islam, seperti PKB, PAN, dan PKS.

"Saat ini, PKS sudah menyatakan partai terbuka. Itu sangat menggembirakan bahwa simbol-simbol agama tidak dapat dijualbelikan untuk politik," ucapnya.

Peneliti senior dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai partai politik berbasis Islam harus melakukan pembenahan agar suara mereka meningkat di pemilu mendatang.

"Partai Islam harus keluar dari `captive marketnya dengan merambah konstituen baru yang selama ini bernaung di partai politik nasionalis. Pemilih Muslim di Indonesia semakin rasional melihat isu yang diangkat oleh partai politik," katanya.

Wakil Sekjen PKS Mahfudz Shiddiq mengakui bahwa untuk meningkatkan suara perlu ada perubahan-perubahan, yakni tidak hanya mencitrakan sebagai partai Islam, tapi perlu mengangkat isu-isu tentang realitas masayarakat saat ini.

"Ini pernah dilakukan PKS pada beberapa tahun lalu. Pada 1999, PKS hanya memperoleh suara sebanyak 1,3 juta suara, kemudian Pemilu 2004 PKS berhasil menambah suara menjadi tujuh juta suara. Ini merupakan lonjakan terbesar," katanya.(*)

S037/D007/AR09

Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010