Freeport perbaiki jalan akibat longsor kampung Banti

Freeport perbaiki jalan akibat longsor kampung Banti

Akses jalan longsor di Kampung Banti dilakukan perbaikan PT Freeport Indonesia. ANTARA/HO-PTFI/am.

250 warga Dusun Tagabera dan Dusun pertanian Tagabukarat terdampak dari musibah tanah longsor ini
Timika (ANTARA) - Pihak PT Freeport Indonesia  yang beroperasi di wilayah Kabupaten Mimika membantu pengerjaan perbaikan akses jalan, tanggul dan parit yang menghubungi dusun pertanian Tagabukarat dengan Dusun Tagabera di wilayah Distrik Tembagapura yang rusak longsor akibat curah hujan tinggi sejak bulan Februari 2021.

Vice Presiden Community Developmen PT FI Nathan Kum dalam keterangan diterima ANTARA, Rabu, menyebut PT Freeport Indonesia Pengerjaan perbaikan longsor telah dilakukan PT Freeport Indonesia selama 21 hari sejak 6 Mei 2021 dari program kerja sama dari berbagai pihak di Kabupaten Mimika.

Kampung Banti terletak sekitar 5 KM dari kota Tembagapura, sekitar 250 warga Dusun Tagabera dan Dusun pertanian Tagabukarat terdampak dari musibah tanah longsor ini.

Awal mula bencana longsor yang terjadi di kampung Banti awal Maret 2021 lalu, PTFI mendapat laporan dari tim Departement Community Affairs yang selama ini bertugas di area Kampung Banti.

Setelah melakukan koordinasi dengan Kepala Distrik Tembagapura mengerahkan Tim Civil Geotech PTFI untuk melakukan pemantauan lokasi kerusakan dilokasi guna memonitor dampak dan resiko bencana susulan di akses jalan terputus.

“PTFI melakukan pekerjaan perbaikan infrastruktur ini berkoordinasi dengan pemerintah melalui Kepala distrik Tembagapura dan kepala kampung. Akses jalan yang rusak dan tertutup lumpur sepanjang akibat longsor sepanjang 1 kilometer diperbaikia agar kembali dapat digunakan oleh warga dengan aman","kata Vice Presiden Community Development PTFI Nathan Kum

Menurut Nathan, perbaikan ini merupakan komitmen perusahaan dalam hal berkontribusi menggerakkan perekonomian masyarakat disekitar wilayah kerja perusahaan.

“Ini merupakan kolaborasi PTFI, Pemerintah setempat, masyarakat, bersama aparat keamanan TNI/Polri,"ungkap Nathan.

Pekerjaan dimulai sejak Kamis (6/5) setelah Tim Community Affairs mendapatkan pinjaman alat berat CAT Excavator 330 dari Tim Fleet Management.
Tim Community Affairs juga melakukan kajian awal bersama Tim Geo Engineering-Civil Geotech untuk melakukan aerial inspection dan inspeksi langsung ke lapangan.

Tentunya tim juga melakukan koordinasi internal di PTFI didukung personel Polsek Tembagapura bersama Satgas. Mobilisasi karyawan yang turun dan naik ke Banti menggunakan bus anti peluru yang biasa dipakai oleh Satgas TNI dan BRIMOB yang bertugas di Banti.
Baca juga: Longsor di sejumlah lokasi, Distrik Tembagapura koordinasi BPBD-PTFI
Baca juga: Kadistrik Tembagapura: Tak ada korban jiwa longsor di Aroanop


Sementara itu, Kepala Distrik Tembagapura, Thobias Yawame, S.IP, mengungkapkan dalam upaya mendukung kemajuan pembangunan infrastruktur pasca Kampung Banti sempat ditinggalkan oleh warga selama kurang lebih satu tahun.

“Kami menghargai peran aktifperusahaan Freeport yang telah memperbaiki kerusakan ini sehingga akses jalan ini bisa kembali dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah sekitar perusahaan,” kata Kadistrik.

Ia menjelaskan, perbaikan jalan yang dilakukan PTFI di kampung Banti dirasakan cukup bermanfaat.

Lebih lanjut Kadistrik Tembagapura menambahkan, adanya perhatian serius yang sudah diberikan Freeport kepada warga 3 dusun di kampung Banti, setelah kurang lebih satu tahun lamanya setelah masyarakat turun, situasi kondisi disana memang banyak yang rusak.

Setelah masyarakat kembali, kampung Banti cukup mendapat perhatian dari Freeport, walaupun tidak 100 persen namun bertahap.

Tantangan dan Resiko Pekerjaan di Kampung Banti Medan yang ekstreme menjadi tantangan utama dalam melakukan pekerjaan di Kampung Banti.

Curah hujan yang tidak menentu, jarak pandang yang terbatas karena kabut, resiko gangguan keamanan, serta potensi kerusakan alat adalah kejadian sehari-hari dalam pengerjaan proyek ini.

Alat berat setiap 3 hari harus naik dan turun untuk melakukan pengisian bahan bakar solar di pintu masuk kampung Banti. Pintu masuk area PTFI berjaraknya sekitar 7 KM dari lokasi pengerjaan.

"Pekerjaan bisa selesai tepat waktu sesuai dengan rekomendasi yang sudah dibuat oleh Tim Geo Engineering-Civil Geotech PTFI,”ungkap Superintendent Community Infrastructure PTFI Rolly Nelwan

Potensi gangguan keamanan selalu menjadi perhatian dari Satgas TNI/POLRI yang bertugas mengawal pengerjaan di Kampung Banti. Tim yang melakukan pembuatan tanggul dan parit untuk mengalirkan air limpasan dibawah tebing yang longsor tetap dalam penjagaan ketat dari pihak keamanan Satgas TNI/Polri.

Kepala kampung Banti 2, Demi Natkime menyambut positif perbaikan infrastruktur yang dilakukan pihak perusahaan, seperti pembersihan tanah longsor, pembangunan tempat tinggal tenaga kesehatan (Nakes), pendampingan ekonomi, akses listrik, hingga rumah sakit dansekolah yang dulu pernah dibangun PTFI.

“Ya, kami sangat terbantu oleh bantuan Freeport yang sudah menurunkan alat berat perbaiki tanggul dan jalan, ini merupakan sarana vital sehari-hari warga dua dusun ini. Kemarin mama-mama (ibu-ibu) merasa senang, kemarin juga ada berdoa syukur di gereja karena akses jalan sudah dapat dilalui,"kata Demi.

Harapannya pihak PTFI telah dan akan terus mendukung Pemda dalam berbagai kegiatan pemulihan Banti secara bersama-sama.
Baca juga: Kapolri ajak Freeport berpatisipasi aktif membangun Papua
 

Pewarta: Muhsidin
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Proses eksekusi hibah besi Freeport Indonesia milik warga 5 Daskam Papua

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar