Wall Street ditutup naik, terkerek redamnya kekhawatiran inflasi AS

Wall Street ditutup naik, terkerek redamnya kekhawatiran inflasi AS

Ilustrasi - Pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Andrew Kelly/pri.

Ini menjaga tekanan dari The Fed dan akan memungkinkan mereka untuk mempertahankan kebijakan suku bunga rendah mereka lebih lama ...
New York (ANTARA) - Wall Street naik pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dipimpin oleh saham sektor teknologi, setelah laporan pekerjaan bulanan AS yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve (Fed) mungkin akan segera mengendalikan stimulus moneter.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 179,35 poin atau 0,52 persen, menjadi menetap di 34.756,39 poin. Indeks S&P 500 menambahkan 37,04 poin atau 0,88 persen, menjadi berakhir di 4.229,89 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup melonjak 199,98 poin atau 1,47 persen, menjadi 13.814,49 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor teknologi terdongkrak 1,92 persen, memimpin kenaikan ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah. Sementara itu sektor utilitas merosot 0,15 persen, menjadikannya sebagai kelompok berkinerja terburuk.

Baca juga: Harga emas bangkit naik 18,7 dolar, dipicu data pekerjaan AS rendah

Ketiga indeks menguat untuk minggu ini, dengan Nasdaq membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.

Pengusaha-pengusaha AS meningkatkan perekrutan pada Mei dan menaikkan upah saat mereka bersaing untuk mendapatkan pekerja. Tetapi peningkatan data penggajian (payrolls) nonpertanian 559.000 pekerjaan berada di bawah perkiraan 650.000 oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Investor khawatir bahwa laporan pekerjaan yang kuat yang menunjukkan kenaikan inflasi dapat mendorong The Fed menarik kembali stimulus yang diberlakukan selama pandemi.

"Ini menjaga tekanan dari The Fed dan akan memungkinkan mereka untuk mempertahankan kebijakan suku bunga rendah mereka lebih lama dan mengambil lebih banyak sikap menunggu dan melihat," kata Kepala Investasi Cresset Capital Management, Jack Ablin.

Baca juga: Nilai tukar dolar jatuh, seiring redupnya harapan pengetatan The Fed

“Peluang untuk mempertahankan suku bunga rendah adalah kabar baik bagi para pengambil risiko.”

Saham teknologi dan saham pertumbuhan lainnya dipandang sangat rentan jika inflasi menaikkan imbal hasil obligasi dan lebih banyak mendiskon nilai arus kas masa depan.

"Ini hanya perdagangan risk-on (pengambilan risiko) karena pasar percaya suku bunga akan tetap lebih rendah lebih lama," kata Manajer Portofolio Senior Dakota Wealth, Robert Pavlik.

Baca juga: Harga minyak naik, Brent tembus 72 dolar ditopang prospek permintaan

Sementara itu perjalanan liar untuk apa yang disebut "saham meme" menarik perhatian investor, dengan saham AMC Entertainment Holdings anjlok 6,7 persen, tetapi melonjak lebih dari 80 persen untuk minggu ini.

Perusahaan SPAC (special purpose acquisition company atau perusahaan cangkang) Pershing Square Tontine Holdings yang dikendalikan miliarder William Ackman jatuh 11,9 persen setelah diberitakan dalam pembicaraan untuk membeli 10 persen Universal Music Group.

Pekan depan, investor akan mengawasi Washington untuk mencari petunjuk tentang apakah reli saham perusahaan yang akan mendapat manfaat dari rencana infrastruktur senilai 1,7 triliun dolar AS yang diusulkan Presiden Joe Biden memiliki lebih banyak ruang untuk berlari.

Baca juga: Rupiah akhir pekan ditutup melemah, pasar tunggu data ketenagakerjaan

Baca juga: Kemarin, akses obligor BLBI diblokir hingga insentif pariwisata

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ombudsman minta BPJS Ketenagakerjaan terbuka soal alokasi investasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar