Reisa Broto Asmoro dan hasrat misi kemanusiaan

Oleh Andi Firdaus

Reisa Broto Asmoro dan hasrat misi kemanusiaan

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro melakukan sesi wawancara khusus dengan LKBN Antara di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (8/6/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Jakarta (ANTARA) - "Restu Mama dan keluarga adalah yang terpenting. Aku boleh mengejar cita-cita, boleh mengejar karier, mencari uang, tapi harus dipastikan, apakah keputusan itu ada manfaat untuk orang lain?"

Reisa Broto Asmoro mengucapkan rentetan kalimat itu dengan penuh percaya diri saat bertukar obrolan di Ruang Redaksi ANTARA, Jakarta Pusat, Selasa.

Itulah keyakinan yang kemudian membuka peluang Reisa berkiprah dalam misi kemanusiaan melalui profesi kedokteran.

Perempuan kelahiran Kota Malang, 28 Desember 1985, itu masih mengingat kala dirinya dinyatakan tidak lulus dalam pencapaian karier sebagai seorang dokter spesialis.

Usai lulus dari pendidikan kedokterannya di Universitas Pelita Harapan, Reisa mencoba peruntungan meraih gelar dokter spesialis.

Persyaratan mendasar adalah pengalaman berkiprah sebagai dokter berstatus pegawai tidak tetap (PTT) di daerah pedalaman yang belum tersentuh akses kesehatan dari pemerintah pusat.

Persyaratan itu gagal diraih Reisa, sebab aturan terkait PTT pada saat itu digugurkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan itu kemudian diserahkan pada kewenangan pemerintah daerah, sesuai dengan kemampuan finansial di wilayah setempat, sehingga kuota tenaga medis yang tersedia pun terbatas jumlahnya.

"Dokter PTT ditiadakan dan diganti dengan uji kompetensi. Ternyata pengalaman sebagai dokter PTT itu menjadi salah satu persyaratan dasar saya waktu mau mendaftar sebagai dokter spesialis. Tiga kali coba, tapi gagal," katanya.

Saat itu muncul keyakinan dalam diri Reisa, jika satu pintu tertutup, maka Tuhan akan membuka pintu lainnya. Tahun 2010 ia mengikuti kontes Puteri Indonesia, perwakilan dari Provinsi Yogyakarta. Dalam kontes nasional tersebut, ia meraih posisi juara kedua, yang memberikannya gelar Puteri Indonesia Lingkungan 2010.

"Kok enggak juara satu juga, kenapa ya saya gak boleh maju ke Miss Universe. Sedih, tapi tetap saya jalani. Oh, ternyata saya harus lebih banyak terjun di lingkungan," katanya.

Nyatanya pengalaman bekerja sama dengan berbagai komunitas lingkungan, seperti Jakarta Kebun, Indonesia Berkebun dan lainnya membawa manfaat yang lebih besar kepada masyarakat ketimbang berkiprah dalam ajang Miss Universe.


Forensik

Setelah lulus dan bekerja di RS Polri Raden Said Soekanto Kramat Jati, model di Look Models Agency serta membintangi beberapa iklan di Indonesia dan Asia itu berkecimpung di dunia forensik demi pertimbangan misi kemanusiaan.

Istri dari Kanjeng Tedjodiningrat Broto Asmoro itu juga menjadi salah satu anggota Dissaster Victim Identification (DVI) yang terlibat dalam proses investigasi korban kecelakaan Pesawat Sukhoi 2012 dan beberapa peristiwa ledakan bom yang dilakukan teroris di Jakarta.

"Lebih mudah menyampaikan berita visum kematian ketimbang saya harus menyampaikan kabar duka kepada keluarga, bahwa salah satu korban tewas berdasarkan tes DNA adalah keluarga mereka," katanya.

Selain menangani kasus kematian, profesi sebagai anggota DVI di Rumah Sakit Polri Kramat Jati juga dijalani Reisa dalam menangani kasus kekerasan pada anak dan perempuan.

Pengalaman tersebut kerap mengusik sisi kemanusiaan Reisa atas kekejaman yang diderita korban. "Saya suka nangis di balik tembok, kok bisa ya orang sekejam itu," katanya.

Kemampuan tampil di hadapan publik diasah oleh host acara kesehatan terkemuka, yaitu Dr. OZ Indonesia, di televisi nasional dengan menjadi pembicara dalam seminar-seminar kesehatan nasional.

Reisa merupakan anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler, dan Public Relations Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2018-2021.

Pada 8 Juni 2020, Reisa diperkenalkan sebagai anggota dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 serta turut hadir dan menyampaikan informasi dalam briefing harian COVID-19 di Indonesia.

Berada pada profesi yang memberi manfaat bagi orang lain, nyatanya membuat ibu dari dua anak itu semakin menikmati pekerjaan misi kemanusiaan. Selain menambah percaya diri juga mengasah sensitivitas sosial.


Keluarga

Meski perjalanan karier Reisa tidak selalu berjalan mulus, namun keberuntungan berpihak pada asmara. Usai meraih gelar dokter, Reisa berhasil menaklukkan hati seorang pria bangsawan.

Reisa menikah dengan Kanjeng Pangeran Tedjodiningrat Broto Asmoro, seorang Pangeran Keraton Surakarta, dan merupakan seorang pengusaha minyak dan gas pada November 2012.

Pria kelahiran Surabaya, 19 Juni 1977, ini adalah putra bungsu dari KPH Hartono Brotoasmoro dan RA Hartuti Hartono Brotoasmoro. Sementara kakak ipar Tedjodiningrat adalah KGPH Dipo Kusumo yang merupakan putra (alm) dari Paku Buwono XII.

Salah satu komitmen dalam pernikahan mereka adalah tanggung jawab keluarga yang lebih penting dari tanggung jawab sosial. "Setiap ada pekerjaan baru, saya pasti minta tanggapan beliau (suami). Sebelum saya bekerja di luar, saya harus pastikan seluruh keluarga saya sudah terurus dulu," katanya.

Jam 09.00 hingga 19.00 WIB di hari kerja merupakan kesepakatan Reisa untuk bekerja di luar rumah. Sementara sisa waktu di luar jadwal tersebut diisi untuk kepentingan keluarga.

Khusus pada Hari Minggu, sejak profesi sebagai juru bicara tidak mengharuskan Reisa tampil di hadapan publik secara penuh, diputuskan sebagai hari keluarga, salah satunya dengan mengisi hari menyaksikan tayangan film bergenre anak-anak di rumah.

Film terakhir yang mereka simak adalah karya animasi Disney Pictures bertajuk "Raya and Last Dragon" yang sarat dengan unsur budaya Indonesia.

Film tersebut, kata Reisa, mengajarkan semangat persatuan dan pengorbanan untuk kepentingan yang lebih besar. "Ini keren, Disney mulai mengangkat nilai Asia, selain Mulan," katanya.

Kreativitas Reisa dalam menghibur keluarga juga diwujudkan dengan membuat layar tancap di rumah yang dilengkapi tenda hingga piknik di taman untuk sekadar menghangatkan kebersamaan keluarga.

Satu hal yang menjadi keinginan besar Reisa usai pandemi, berjalan-jalan ke luar negeri bersama keluarga. "Sebab dari 34 provinsi di Indonesia, hanya Aceh saja yang belum pernah saya kunjungi," katanya.

Lokasi wisata Raja Ampat di Provinsi Papua Barat adalah salah satu objek wisata domestik yang paling berkesan bagi Reisa dan keluarga.

Oleh Andi Firdaus
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

WHO identifikasi seperempat penyintas di dunia alami

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar