Pontianak (ANTARA News) - Sejumlah tokoh etnis di Provinsi Kalimantan Barat, di Ruang Praja Dua Kantor Gubernur Rabu sore mendeklarasikan pernyataan cintai damai meskipun hidup dalam masyarakat plural.

Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar Thadeus Yus menyatakan, pada dasarnya masyarakat Dayak tidak menginginkan di provinsi itu terjadi tindak kekerasan seperti bentrokan antarwarga yang terjadi di Kota Tarakan.

"Kami masyarakat Dayak cinta damai dan menganggap etnis lainnya sebagai saudara," ujarnya.

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kalbar Chairil Effendy juga menyatakan hal senada. "Masyarakat Kalbar sebenarnya sudah jenuh dan capek seperti insiden di Kota Tarakan sehingga selalu berusaha menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia menyambut baik langkah yang telah dilakukan oleh Kepolisian Daerah Kalbar dan TNI yang memfasilitasi pertemuan lintas etnis dalam menyikapi insiden di Tarakan.

Sementara itu, Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalbar Kadir Ubbe mengatakan, warga KKSS di provinsi itu selalu menjaga hubungan baik dan silaturahmi antaretnis.

Serta selalu mempercayakan suatu tindak kekerasan baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok pada hukum yang berlaku. "Mudah-mudahan dengan pertemuan lintas etnis ini, maka hal buruk yang bisa saja terjadi bisa ditanggulangi," katanya.

Dalam pertemuan lintas etnis yang dilakukan oleh Polda Kalbar TNI, semua tokoh etnis di provinsi itu hadir dan menyatakan siap menjaga situasi dan kondisi agar aman dan damai.

Kepala Polda Kalbar Brigadir Jenderal (Pol) Sukrawardi Dahlan mengimbau, masyarakat tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang sifatnya memperkeruh suasana.

"Kalau ada sekelompok orang yang berusaha memperkeruh masalah, cepat laporkan ke kantor polisi terdekat agar segera ditanggulangi," katanya.

Ia menjelaskan, insiden di Kota Tarakan perlu diwaspadai karena satu pulau dengan Kalbar. "Kami berharap para tokoh masyarakat dan etnis menggunakan ketokohannya untuk mengajak masyarakat agar tidak terpancing oleh isu-isu yang menyesatkan," kata Sukrawardi.

Sementara itu, Kepala Staf Komando Daerah Militer XII Tanjungpura Brigadir Jenderal TNI Armyn Alianyang mengatakan, masyarakat Kalbar tidak perlu khawatir insiden itu akan meluas hingga ke wilayahnya.

"Polri dan TNI sudah berusaha sekuat tenaga agar bentrok antarwarga di Tarakan diselesaikan secepatnya," katanya.

Menurut dia, pada dasarnya masyarakat Kalbar sudah bosan dan capek dengan kasus serupa, sehingga tidak mudah terpengaruh.

Ia mengajak, semua elemen masyarakat untuk menjaga Kamtibmas di lingkungan masing-masing agar kejadian di Tarakan tidak terjadi di Kalbar.

Bentrok antarwarga di Kota Tarakan, Kaltim itu dipicu tewasnya Abdullah (50), seorang tokoh masyarakat di Perumahan Juwata Permai Minggu malam sekitar pukul 22.00 WITA.

Pada Senin siang (27/9) warga yang marah kemudian membakar dua rumah yang diduga milik para pelaku pembunuhan tersebut.

(A057/B013/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010