Latihan pernapasan untuk pasien COVID-19 selain teknik "proning"

Latihan pernapasan untuk pasien COVID-19 selain teknik "proning"

Teknik latihan pernapasan diafragrama. (ANTARA/HO/lung.com)

Ini adalah latihan agar pasien bisa mengeluarkan napas lebih panjang, selain itu proses menghirup udara pun menjadi lebih mudah
Jakarta (ANTARA) - Selain "proning", ternyata ada beberapa teknik latihan pernapasan yang bisa dilakukan pasien COVID-19 yang sedang menjalani perawatan atau isolasi mandiri untuk membantu kinerja paru-paru dalam mengikat oksigen.

Dokter Amien Suharti dari Unit Rehabilitasi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mengungkapkan tiga jenis latihan pernapasan selain "proning" yang bisa dilakukan pasien isolasi mandiri saat merasakan sesak napas di samping sebagai upaya meningkatkan saturasi oksigen di dalam tubuh.

“Pertama ada latihan pernapasan diafragrma. Selain otot- otot yang biasa digunakan untuk bernapas, tubuh kita memiliki otot di bawah bagian paru-paru bernama otot diafragma. Letaknya ada di bagian atas perut. Otot ini punya ukuran besar dan memiliki peranan besar dalam proses bernapas. Pernapasan diafragrma ini mengikat lebih banyak oksigen sehingga itu adalah alasan mengapa saat kita bernapas menggunakan otot perut bisa tahan napas lebih panjang,” kata dokter Amien dalam webinar yang disiarkan di YouTube, Sabtu.

Baca juga: Pakar: Tidur tengkurap untuk terapi pasien COVID-19 yang sesak napas

Latihan pernapasan diafragrma bisa dilakukan pasien isolasi mandiri dengan cara duduk atau pun sedikit berbaring di kasur dengan posisi kepala lebih tinggi dari tubuh.

Latihan dimulai dengan menaruh satu telapak tangan di bagian dada, dan satu telapak tangan di bagian perut.

Lalu setelah tarik napas menggunakan hidung dan alirkan ke arah perut sehingga pada saat proses inspirasi (menarik napas) udara masuk ke bagian perut sehingga bagian perut membesar.

Perlahan lakukan ekspirasi atau membuang napas melalui mulut secara perlahan hingga perut mengempes, latihan ini bisa dilakukan 5-10 menit.

Latihan pernapasan kedua adalah latihan Pernapasan Pengembangan Dada atau dinding dada.

Teknik latihan pernapasan pengembangan dada bisa menjadi pilihan latihan pernapasan bagi ibu hamil yang memiliki kesulitan untuk bergerak banyak atau pun tidak bisa melakukan posisi tengkurap.

“Rongga dada ini kalau diumpamakan itu seperti sangkar untuk paru- paru, melatih pernapasan pengembangan dada ini melatih juga rongga dada menjadi lebih lebar sehingga paru-paru bisa ikut terbuka lebih lebar lagi dan semakin banyak oksigen yang masuk,” kata dokter Amien.

Baca juga: Mengenal proning dan kegunaannya untuk pasien COVID-19

Untuk melakukan latihan pernapasan pengembangan dada, pasien isolasi mandiri bisa melakukannya sembari duduk. Rentangkan tangan ke sisi kanan dan kiri pada saat mengambil nafas menggunakan hidung.

Tarik tangan ke bagian dalam saat membuang napas secara perlahan dan dilakukan beberapa kali hingga rasa sesak di dada bisa teratasi.

Tidak hanya untuk ibu hamil, latihan ini juga cocok untuk orang yang baru selesai melakukan operasi caesar atau operasi di bagian perut.
 

Teknik latihan pernapasan "pursed lip breathing" (ANTARA/HO/lung.com)
Latihan ketiga yang bisa anda lakukan dan bisa dibilang paling mudah dibanding dua latihan sebelumnya adalah latihan pernapasan dengan teknik pursed lip breathing.

Jika pada dua latihan sebelumnya anda memperbesar kapasitas paru-paru saat mengambil napas, maka pada latihan ketiga ini anda diajak untuk berlatih mengelola (memanajemen) pembuangan napas sehingga memperpanjang proses pengambil napas.

“Tarik napas dilakukan pasien seperti biasa menggunakan hidung, baru pada saat mengeluarkan napas bibirnya dikerucutkan lalu hembuskan napas lewat mulut seperti sedang meniup tapi dibuangnya perlahan-lahan. Ini adalah latihan agar pasien bisa mengeluarkan napas lebih panjang, selain itu proses menghirup udara pun menjadi lebih mudah. Lakukan berulang hingga rasa sesak hilang,” kata wanita yang juga aktif di organisasi Perhimpunan Besar Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PB PERDOSRI) itu.

Ketiga langkah teknik pernapasan itu bisa dilakukan secara kombinasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan diharapkan tidak dilakukan secara berlebihan agar tidak menimbulkan keluhan lain pada saat pasien menjalani isolasi mandiri.

Ketiga teknik ini pun sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan oleh pasien COVID-19 tapi juga bisa dilakukan oleh pasien dengan gangguan pernapasan seperti asma sehingga bisa melatih kapasitas paru-parunya dengan baik.

Sebelumnya, teknik pernapasan “proning” akhir- akhir ini menjadi primadona karena dikenalkan kepada pasien COVID-19 untuk bisa memaksimalkan kerja paru-paru dengan metode yang didominasi gerakan tengkurap.

Dengan melatih kapasitas paru-paru, masyarakat atau pasien COVID-19 yang melakukan latihan pernapasan bisa mendapatkan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh dan tetap menjaga tubuh bisa bekerja dengan baik untuk pemulihan di kala sakit.

Baca juga: Lula Kamal: Pasien isoman lakukan proning saat tiba-tiba sesak napas

Baca juga: Dokter RSA UGM: Teknik proning pertolongan pertama pasien sesak napas


Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar